#AsyiknyaNaikFerry: Pulang ke Laut



Sebagai seseorang yang tumbuh di provinsi terujung di Pulau Sumatera, Lampung, saya sangat familiar dengan pantai dan laut. Sejak kecil, seringkali saya dan keluarga bepergian menuju Pulau Jawa melalui jalur darat yang dilanjutkan melalui Selat Sunda menggunakan Kapal Ferry dari ASDP Indonesia Ferry, baik pergi hingga pulang kembali ke Bandar Lampung.

Tentunya banyak kenangan-kenangan menarik selama perjalanan melintasi Selat Sunda. Apalagi, sudah tidak terhitung berapa banyaknya saya pergi menggunakan Kapal Ferry  Berbagai variasi rute sudah saya jalani, mulai dari menggunakan kendaraan pribadi, Damri, ataupun Bus Pariwisata antar kota.

Pemandangan di sekitar dermaga Merak dan Bakauheni biasa diikuti dengan perpisahan-perpisahan, diikuti oleh aroma khas lautan yang langsung bermuara pada Laut Jawa dan Samudera Hindia, keindahan pemandangan alam yang masih belum terjamah dari pulau-pulau kecil di sekitarnya, serta gugusan Anak Gunung Krakatau di tengahnya. Saya tidak pernah bosan bepergian melalui jalur laut, karena setiap perjalanannya memberikan nuansa yang baru dan selalu ada pengalaman yang berbeda-beda pula.

#AsyiknyaNaikFerry adalah suasana yang selalu berbeda di setiap kapalnya, baik awak kapal maupun menu jualan di dalamnya. Pilihan kelas di dalam badan kapal pun bervariasi. Tidak semua bentuk dan jenis Kapal Ferry itu sama. Diantara Kelas Bisnis dan Ekonomi, terkadang ada pilihan Kelas Lesehan segala. Sangat cocok bagi yang akan melakukan perjalanan jauh lintas Jawa/Sumatera dan butuh istirahat lebih nyaman.

Sekarang ini, sesudah merantau ke ibukota Jakarta, saya selalu menyempatkan diri untuk pulang kembali ke kampung halaman di Sumatera. Walaupun di era yang serba digital ini, semua serba cepat dan mudah, semua orang berbondong-bondong naik pesawat terbang. Namun bagi saya, momen naik Kapal Ferry tetaplah yang selalu saya nantikan. Klasik tetapi asyik. Bagi saya, setiap mil perjalanan yang ditempuh sangatlah berarti, mereka mempunyai ceritanya sendiri-sendiri. Saya selalu tidak sabar kembali ke rumah, menikmati pantai-pantai di pesisir Sumatera, yang kini mulai banyak di eksplor oleh para pelancong domestik maupun mancanegara.


Kadangkala ketika perjalanan dilakukan pada senja hari, kita bisa sambil melihat sunset di pinggir dek kapal. Suasana yang damai sekaligus romantis, yang pastinya jarang ditemui di tengah kota besar. Keindahan matahari berada di ujung cakrawala, berikut kemilaunya hamparan laut yang menjadi berwarna jingga keemasan. Benar-benar pesona yang luar biasa, mengingat bahwa kami bukan dalam perjalanan liburan, namun sangat menghibur.

Bila perjalanan di lakukan pada pagi atau siang hari, jika beruntung kita dapat melihat lumba-lumba bermain dan berloncatan mengikuti lajunya kapal, seolah-olah mengajak untuk bermain dan berlomba adu cepat.
Bahkan jika melakukan perjalanan malam hari, walaupun hari telah gelap dan pemandangan laut tidak begitu kelihatan jelas, kita masih bisa merasakan semilir angin laut serta gemerlap lampu-lampu di sekeliling pulau, jauh di seberang, yang terlihat berupa titik-titik terang berwarna-warni.


Saya tahu, bukan hanya saya seorang yang memiliki kenangan tentang pulang ke kampung halaman. Setiap orang pasti punya ceritanya masing-masing.
Bagi kami, para perantau yang berada jauh dari rumah, ingin selalu kembali ke pelukan Ibu. Seperti pelari yang tetap berada di jalur trek nya, seperti pemain musik kembali pada nada-nada, petani kembali pada rumahnya setelah seharian bekerja di sawah. Ya, ada sisi romantisme yang mampu mengarahkan imajinasi liar kami di sepanjang perjalanan laut yang ditempuh selama 2 jam tersebut.

Bagaimanapun, kembali dan pulang ke sisian laut merupakan hal yang selalu ditunggu-tunggu. Kembali pada kapal-kapal dan perahu yang membesarkan saya, menerjang ombak dan gugusan pulau-pulau, bahkan yang sudah mengajarkan saya kerasnya kehidupan.

Seperti inilah rasa 'pulang' itu seharusnya.