Siddharta The Buddha Film Screening

Since its first debut in 2013 at Sri Lanka, a spiritual movie Siddharta The Buddha or also known as Sri Siddharta Gautama was phenomenal. Not because of the story which is based on Prince Siddharta as a human being as the point of view, but also in the making. Including the selective casts, visual art, movie sets, and architectures that make it different from this kind of movie before.

Navin Gooneratne as the producer already give his permission to PATRIA (Theravada Buddhist Youth of Indonesia) to serving it in Indonesia, as the 10th country who serving it. For a certain time period, this film is now playing in several cities around Indonesia in turns. Medan - Jakarta - Jambi - Palembang - Tangerang - Semarang - Yogyakarta - Surabaya - Denpasar - Pontianak - Banjarmasin - Samarinda - Makassar.

For those who haven't watched the trailer yet, check this one out:





1st STOP >>> MEDAN
Even though there's some trouble to set in first, but it can't burn off our spirit to still serving this great movie. We were proudly present it to you, as well as Medan is the first city stop in its journey along Indonesia road tour on Sunday, June 12th 2016. It won't be released in DVD or Youtube, just brought it to you exclusively in a giant screen of Selecta Imperial Hall, 3rd floor. Successfully done, such an honor!


The combination of the powerful elements like art, dialogue, role, and the luxury of a very attractive setting. This film also full of moral and cultural values bring the audience to dissolve in the pride and emotion. Even not a few audience bring the tears after exit the cinema. It really touched besides on the story we knew before. An epic movie deserves! Especially as the Buddhist, we have to support Buddhism Film.

Life story of a royal family during that period about 500 before century in India, described timelessly by narrative writing, costumes, and properties. Conflicts and fraternity also included in. No doubt that our most favorite part is love scene. The film didn't show every single details, but the message delivered enough to us. It's about the struggle, his spirit of how he leave the luxury then torture himself and finally to be enlightened.

The main actress/actors are also good looking and lovely to watch. Ah, I can't tell you any longer... As the first 2000 peoples in Indonesia who have watched this film, I feel so lucky and really can't help my hands to typing to share the story a little bit more. Hahaha!
In order not to spoiler, I just ask some audience for their testimonials of the film. From the religious figures to Buddhist communities, most of them give positive response to the sequel, if there's Siddharta The Buddha Part 2 later. Who knows? We heard the info that Navin is still producing this. Seeing how the audience appreciate and enthusiast, I just really can't wait!!


Watch full video testimonials from my interviewee on Patria Sumut fanpage and let's join the massive crowd over the Indonesia road tour!


https://www.facebook.com/PatriaSumut/videos/919993398123542/

https://www.facebook.com/PatriaSumut/videos/919993398123542/

https://www.facebook.com/PatriaSumut/videos/919993398123542/


"A great film. For me it was a great pleasure and inspiration to see a good movie, one which has a great legend behind it. This is not entertainment, this is actually inspiration so you can go away understanding more, being a better human being. Getting closer to enlightenment and the real renunciation which you all know was not leaving the home, is the renunciation which goes on inside of us, that’s much harderthan leaving your wife & kids, the palace and all your possessions. Renouncing your hatred, guilt and your fear, those are the hard once to renounce.“
- Ajahn Brahmavamso -


Next stop is Jakarta for 2 weeks in a row, June 19th and 25th 2016. They also have press conference and meet & greet with the cast too! Aaahh so envy :( remembering the main cast Gagan Malik who play roles as Prince Siddharta also come to greet his fans in Jakarta. I wish I was there...

And the journey continued to Jambi on July, 1st and 2nd 2016... More info and upcoming schedule, feel free to ask PATRIA in your city :)

Just An Ordinary Wongsoyudan #BalasDi18

Hidup itu merupakan serangkaian proses yang diwarnai dengan kegagalan dan kesuksesan. Bagaimana cara kita menyikapi hidup dan perjuangan lah yang mewarnai serangkaian itu. Mungkin saat ini gue masih mencari apa yang disebut sukses, tapi selama gue menganut paham wongsoyudan, gue jadi punya kemauan untuk sukses di masa depan. Wongsoyudan yang dimaksudkan disini adalah kalangan yang berjuang.

Bisa dibilang perjuangan terbesar gue di bidang olahraga, khususnya tenis lapangan. Dulu waktu masih junior, gue pernah serius menekuni bidang ini bahkan sebagai profesi. Bertanding dari satu kota ke kota lainnya di usia yang relatif muda selain membuat gue paham akan keberagaman budaya Indonesia, gue juga semakin mengenal orang-orang diluar sana. Selalu ada lawan yang gigih di setiap turnamen. Salah satu yang paling gue inget, seorang lawan yang sekaligus jadi idola gue dari Sumatera. Sebut aja namanya Vera. Dari situ gue mulai mengamati gaya hidupnya yang memang-atlet-banget dan semangatnya yang pantang menyerah. Pokoknya kalo ngeliat dia saat itu, orang pada yakin dia bakal jadi petenis hebat nantinya.

Terbukti di tahun-tahun berikutnya, dia memang selalu jadi andalan daerah. Dia bahkan rela ngorbanin sekolahnya demi ngejar prestasi di olahraga. Ya, kadang keduanya memang nggak bisa jalan beriringan. Kalo mau fokus, salah satu harus dipilih. Dia lebih milih untuk jadi atlet, masuk asrama atlet di Jakarta. Beda banget sama gue yang milih dua-duanya, sekolah dan olahraga *maruk sihh. Mungkin itu juga sebabnya kenapa prestasi gue jauh tertinggal dari dia.

Tahun demi tahun gue lewati menjadi petenis junior tingkat provinsi, yang tanpa sadar sebenernya menyita waktu dan ngabisin masa muda gue banget. Di akhir SMA ketika temen-temen gue sibuk daftar perguruan tinggi, baru deh gue sadar bahwa gue belum menentukan masa depan gue! Untuk lanjut jadi petenis rasanya nggak ada masa depan lagi karena prestasi gue ya begitu-gitu aja. Apalagi melihat perkembangan olahraga dan kondisi para atletnya yang kurang dihargai di negeri ini. Gue harus kuliah! Tapi nggak tau mau ngambil jurusan apa. Gue jadi kelabakan sendiri. Mungkin jurusan teknik? Ya, mungkin. Jadilah semua perguruan tinggi negeri gue coba daftarin, dari jalur undangan sampai tertulis. Sayang ternyata nggak ada yang nerima. Mungkin karena gue kurang fokus di akademik.

Untungnya saat itu kampus UGM punya jalur prestasi dari bidang olahraga dan seni. Akhirnya gue merasa ada juga harapan. Gue antusias banget mendaftar. Ada 2 tahap seleksi untuk bisa diterima dari jalur ini. Pertama dengan tes tertulis di daerah masing-masing. Oke, gue lolos seleksi awal. Seleksi tahap kedua yaitu para peserta diundang ke kampus UGM di Jogja untuk tes kemampuan di bidang olahraga/seni, dalam kasus gue ya di lapangan tenisnya. Sampe pada waktunya pengumuman apakah diterima sebagai mahasiswa atau tidak. Dan ternyata…gue nggak diterima :( Lagi dan lagi. Gue kecewa. Banget!



Apakah gue menyerah?
Enggak!
Besoknya gue daftarin lagi universitas-universitas yang masih buka pendaftaran. Di saat gue udah hopeless, akhirnya gue keterima di salah satu universitas negeri di Sumatera Utara yang jadi tempat gue belajar sekarang. Dan ternyata gue menemukan masa depan gue disini, yang ternyata bukan jurusan teknik, tapi kedokteran gigi. Wah gue bakal jadi dokter! Rejeki anak ngeyel :p
Sampe post ini ditulis, gue udah menjalani 6 tahun pendidikan kedokteran gigi, dan doain aja (semoga) bisa tamat di tahun ini.




Gue juga masih main tenis, walaupun udah nggak ngejar prestasi di tingkat provinsi,yaa sadar umur sih :p Tapi beberapa kali gue sempet mewakili kampus untuk bertanding di luar negeri. Siapa yang sangka nasib membawa gue into the next level?



Dan setelah beberapa tahun gue ketemu lagi sama Vera, gue tanya kabarnya,
“Ver, masih maen tenis nggak lo?"

"Udah nggak lagi dress.."

"Loh kok gitu?"


"Ya, jadi atlet itu kan nggak gampang..."


"Jadi, apa kesibukan lo sekarang?"


"Kayaknya gue mau lanjut sekolah aja deh, Dress..."

Yah! Dia berhenti tenis. Sayang banget… Sekarang gue dan dia sama. Sama-sama berhenti ngejar prestasi dan udah nggak berharap banyak lagi di bidang olahraga. Terakhir sih gue denger dia jadi sekolah chef, juru masak. Jauh dari apa yg dia kejar selama ini. Tapi disamping itu, gue mikir kalo jadi chef kayaknya oke juga kok. Nggak kalah keren dari petenis.

Walaupun kadang masih ada sih sedikit perasaan pengen balik lagi ke masa-masa itu dimana kita masuk tim bela provinsi, training, coaching clinic, turnamen di luar kota, dikasih uang saku, perlengkapan baru, seragam tim kebanggaan, diliput koran daerah, dan semua fasilitas atlet yang menggiurkan. Tapi gue sadar sih buat apa nyesel? Buat apa masih mengingat-ingat masa jaya yang udah lewat? Memang sih kalo udah gagal ya pasti rugi waktu, energi, materi, dan banyak kerugian lainnya. Belum lagi rasa kecewa diri sendiri dan orang-orang yang selama ini mendukung kita. Tapi malah dari situ, gue belajar untuk lebih menghargai perjuangan hidup.

Maksud dari cerita gue ini buat pembelajaran bahwa ketika kita gagal di satu bidang, bukan berarti kita juga akan gagal di bidang lainnya. Kadang walaupun udah berusaha keras, semangat, dan nggak putus asa tapi masih aja mengalami kegagalan. Mungkin memang harus gagal dulu baru kita tau gimana sakitnya.
Gue memang pernah gagal sebelumnya, tapi gue juga bukan pecundang. Yang namanya perjuangan itu nggak akan pernah sia-sia, seenggaknya sampe detik ini gue adalah pembelajar yang terhormat. Mungkin gue gagal jadi atlet hebat, tapi gue cukup yakin banyak pasien-pasien yang nasibnya tergantung sama ilmu yang gue pelajari saat ini. Nasib membawa gue untuk mengabdikan diri di bidang kesehatan, sesuatu yang sama sekali lain.

Tapi perjuangan gue di bidang olahraga mungkin belum selesai. Sebagai orang yang tumbuh dari olahraga, gue merasa punya PR untuk mengembangkan bidang ini. Siapa tau suatu hari nanti gue bisa mengusahakan sponsor olahraga yang berkelas atau menjadi insan olahraga di kalangan atas. Siapa tau...
Gue nggak mau gagal lagi. Kegagalan masa lalu bukanlah sesuatu yang harus disedihin, tapi dijadiin motivasi supaya bidang yang kita tekuni sekarang nggak bernasib sama, supaya nggak berakhir dengan kegagalan juga. Amin!

A winner is not always a champion. Winner is winner, loser is learner. Yess, I'm a learner!
- Dresiani Mareti -

--->> Sebuah cerita perjuangan hidup saya sebagai seorang wongsoyudan yang bukan hanya menikmati karya, tapi juga berkarya.
Selamat ulang tahun Mas @Pandji #BalasDi18

Meet and Greet "Menemukan Indonesia"




Bisa dibilang gue adalah salah satu dari 100 orang beruntung yang dapet kesempatan untuk Meet &Greet Pandji Pragiwaksono (@pandji) dan Nonton Bareng “Menemukan Indonesia”, kemaren 5 Juni 2016 di meeting room Hotel Santika Dyandra tepat sehari sebelum tour nya #JuruBicara Medan. Keseruan show 3 tahun lalu membuat gue pengen mengulang euforia show nya lagi. Padahal gue nggak tau ada promo apa pun dari awal karena memang nggak ngikutin update event nya. Terus nunda-nundaaaa beli tiket sampe akhirnya excited banget waktu tau ternyata tiket gue kebagian M&G. Hahaha. Rejeki anak brengsyek :p




“Menemukan Indonesia”
Sebuah video dokumenter tentang perjalanan Stand Up World Tour nya @pandji dari show #MesakkeBangsaku di beberapa Negara di 4 benua, yaitu Asia, Australia, Eropa, dan Amerika. Yahh semacam kumpulan vlog gitu deh.

Di video amatir yang berdurasi lumayan ini…yaa sekitar 2 jam lah ya, kita diajak mengenal siapa aja sih manusia-manusia unik behind the stage nya Pandji selama ini, serta ngintip keseharian mereka selama tour di negeri orang. Selama setahun mereka bolak-balik dari panggung ke panggung. Dari satu negara-pulang dulu ke negara sendiri-terus lanjut ke negara lainnya. Maklum aja soalnya ada yang kejar tayang untuk stripping Sebelas Dua Belas. Hahaha. Dan karena openernya ganti-gantian juga sih.


Well, kalo kalian ngikutin miniseries #TitipanMama di Youtube yang digarap oleh salah satu sponsor tour ini, kalian pasti nggak asing lagi sama wajah-wajah para cast nya yang sebenernya ya konco-konco anggota tim sukses nya Pandji juga. Mulai dari asisten, videografer, sekertaris, bendahara, para komika opener, sampe komika utamanya. Karakter, sifat, dan kelakuan masing-masing ajaib banget, jadi secara keseluruhan lucu sih. Walaupun diakui sendiri sama Pandji bahwa dalam melakukan world tour itu nggak selamanya seru, tapi capek banget dan banyak drama pastinya. Di beberapa segmen digambarkan macam-macam konflik yang terjadi, selain hal-hal umum kayak jet leg dan susahnya nyari makanan halal, mereka juga harus berhadapan sama penduduk lokal yang nggak bisa Bahasa Inggris, target audience nggak sesuai harapan, panitia nggak professional, pengalaman horror, mau ditangkap polisi, sampe cerita fakir wifi di negeri orang. Hahaha gokil!

Keliatan banget bahwa tim harus berusaha keras ngontrol emosi dan menyelesaikan konflik yang ada, soalnya bahaya banget sih kalo bad mood kebawa-bawa sampe panggung kan berabe. Yah seperti apa yang dibilang Pandji menyikapi problema-problema tur di video itu,

“Namanya juga lagi world tour, bukan lagi honeymoon…”





Meet & Greet
Di akhir sesi, Pandji muncul dan ngelayanin press conference serta Q&A juga. Dengan menyelipkan sedikit kampanye tentang ganja. Mungkin nggak akan gue bahas disini, karena gue lagi males ngikutin kampanye, lagipula kayaknya hal ini nggak akan habis diomongin di forum besar atau media-media nasional. Pro dan kontra pasti akan selalu ada. Lebih cocok ke ‘obrolan tongkrongan’ aja sebenernya. Tapi gue setuju banget sih dengan pendapatnya yang menurut gue cukup bijak dengan memandang isu tersebut dari berbagai sudut pandang dan hebatnya dia bisa mempengaruhi mindset semua orang yang ada di ruangan itu. Bukan pake hipnotis atau ilmu tertentu, tapi cuma dengan penjabaran yang rasional dan masuk akal. Gilaaaa gue nggak nyangka dia punya pemikiran sejauh itu *standing applause!

Pertanyaan-pertanyaan lain dijawab dengan percaya diri dan lugas, berhubungan dengan perannya dalam kemajuan stand up comedy Indonesia, isu-isu yang berkembang, semangat nasionalisme yang kayaknya akan muncul di setiap Q&A standard.



Sama seperti yang gue temui beberapa tahun lalu, sosok Pandji ternyata humble banget mau ngelayanin fans dan nggak pelit ngomong. Beneran ada “greet” nya, nggak cuma sekedar “meet” doang. Karena gue sempet nanya di forum, pas sesi foto di akhir doi inget aja loh nama gue, walaupun bersalahan…

“Terima kasih ya, Grace”

Siapa lagi Grace itu~ Sejak lahir perasaan nama gue Dres dan nggak ada pilihan ganda nya deh -.- Hahaha.



Baru pemanasan aja gue udah lemess ngakak mulu. Aaahhh jadi nggak sabar nih buat ntar malem, pasti bakalan pecah abis! Ada bocoran katanya materi doi sendiri akan panjang dan lumayan berat daripada show sebelum-sebelumnya. Perlu waktu 2 jam sendiri untuk headliner aja, belum sama opener nya. Siap-siap popcorn ya. Dannn sebagai salah satu orang Indonesia pertama yang nonton show ini, tangan gue juga rasanya gatel mau nge-review hahaha.

Tungguin juga review #JuruBicara nya ntar ya!