Just An Ordinary Wongsoyudan #BalasDi18

Sunday, June 12, 2016

Hidup itu merupakan serangkaian proses yang diwarnai dengan kegagalan dan kesuksesan. Bagaimana cara kita menyikapi hidup dan perjuangan lah yang mewarnai serangkaian itu. Mungkin saat ini gue masih mencari apa yang disebut sukses, tapi selama gue menganut paham wongsoyudan, gue jadi punya kemauan untuk sukses di masa depan. Wongsoyudan yang dimaksudkan disini adalah kalangan yang berjuang.

Bisa dibilang perjuangan terbesar gue di bidang olahraga, khususnya tenis lapangan. Dulu waktu masih junior, gue pernah serius menekuni bidang ini bahkan sebagai profesi. Bertanding dari satu kota ke kota lainnya di usia yang relatif muda selain membuat gue paham akan keberagaman budaya Indonesia, gue juga semakin mengenal orang-orang diluar sana. Selalu ada lawan yang gigih di setiap turnamen. Salah satu yang paling gue inget, seorang lawan yang sekaligus jadi idola gue dari Sumatera. Sebut aja namanya Vera. Dari situ gue mulai mengamati gaya hidupnya yang memang-atlet-banget dan semangatnya yang pantang menyerah. Pokoknya kalo ngeliat dia saat itu, orang pada yakin dia bakal jadi petenis hebat nantinya.

Terbukti di tahun-tahun berikutnya, dia memang selalu jadi andalan daerah. Dia bahkan rela ngorbanin sekolahnya demi ngejar prestasi di olahraga. Ya, kadang keduanya memang nggak bisa jalan beriringan. Kalo mau fokus, salah satu harus dipilih. Dia lebih milih untuk jadi atlet, masuk asrama atlet di Jakarta. Beda banget sama gue yang milih dua-duanya, sekolah dan olahraga *maruk sihh. Mungkin itu juga sebabnya kenapa prestasi gue jauh tertinggal dari dia.

Tahun demi tahun gue lewati menjadi petenis junior tingkat provinsi, yang tanpa sadar sebenernya menyita waktu dan ngabisin masa muda gue banget. Di akhir SMA ketika temen-temen gue sibuk daftar perguruan tinggi, baru deh gue sadar bahwa gue belum menentukan masa depan gue! Untuk lanjut jadi petenis rasanya nggak ada masa depan lagi karena prestasi gue ya begitu-gitu aja. Apalagi melihat perkembangan olahraga dan kondisi para atletnya yang kurang dihargai di negeri ini. Gue harus kuliah! Tapi nggak tau mau ngambil jurusan apa. Gue jadi kelabakan sendiri. Mungkin jurusan teknik? Ya, mungkin. Jadilah semua perguruan tinggi negeri gue coba daftarin, dari jalur undangan sampai tertulis. Sayang ternyata nggak ada yang nerima. Mungkin karena gue kurang fokus di akademik.

Untungnya saat itu kampus UGM punya jalur prestasi dari bidang olahraga dan seni. Akhirnya gue merasa ada juga harapan. Gue antusias banget mendaftar. Ada 2 tahap seleksi untuk bisa diterima dari jalur ini. Pertama dengan tes tertulis di daerah masing-masing. Oke, gue lolos seleksi awal. Seleksi tahap kedua yaitu para peserta diundang ke kampus UGM di Jogja untuk tes kemampuan di bidang olahraga/seni, dalam kasus gue ya di lapangan tenisnya. Sampe pada waktunya pengumuman apakah diterima sebagai mahasiswa atau tidak. Dan ternyata…gue nggak diterima :( Lagi dan lagi. Gue kecewa. Banget!



Apakah gue menyerah?
Enggak!
Besoknya gue daftarin lagi universitas-universitas yang masih buka pendaftaran. Di saat gue udah hopeless, akhirnya gue keterima di salah satu universitas negeri di Sumatera Utara yang jadi tempat gue belajar sekarang. Dan ternyata gue menemukan masa depan gue disini, yang ternyata bukan jurusan teknik, tapi kedokteran gigi. Wah gue bakal jadi dokter! Rejeki anak ngeyel :p
Sampe post ini ditulis, gue udah menjalani 6 tahun pendidikan kedokteran gigi, dan doain aja (semoga) bisa tamat di tahun ini.




Gue juga masih main tenis, walaupun udah nggak ngejar prestasi di tingkat provinsi,yaa sadar umur sih :p Tapi beberapa kali gue sempet mewakili kampus untuk bertanding di luar negeri. Siapa yang sangka nasib membawa gue into the next level?



Dan setelah beberapa tahun gue ketemu lagi sama Vera, gue tanya kabarnya,
“Ver, masih maen tenis nggak lo?"

"Udah nggak lagi dress.."

"Loh kok gitu?"


"Ya, jadi atlet itu kan nggak gampang..."


"Jadi, apa kesibukan lo sekarang?"


"Kayaknya gue mau lanjut sekolah aja deh, Dress..."

Yah! Dia berhenti tenis. Sayang banget… Sekarang gue dan dia sama. Sama-sama berhenti ngejar prestasi dan udah nggak berharap banyak lagi di bidang olahraga. Terakhir sih gue denger dia jadi sekolah chef, juru masak. Jauh dari apa yg dia kejar selama ini. Tapi disamping itu, gue mikir kalo jadi chef kayaknya oke juga kok. Nggak kalah keren dari petenis.

Walaupun kadang masih ada sih sedikit perasaan pengen balik lagi ke masa-masa itu dimana kita masuk tim bela provinsi, training, coaching clinic, turnamen di luar kota, dikasih uang saku, perlengkapan baru, seragam tim kebanggaan, diliput koran daerah, dan semua fasilitas atlet yang menggiurkan. Tapi gue sadar sih buat apa nyesel? Buat apa masih mengingat-ingat masa jaya yang udah lewat? Memang sih kalo udah gagal ya pasti rugi waktu, energi, materi, dan banyak kerugian lainnya. Belum lagi rasa kecewa diri sendiri dan orang-orang yang selama ini mendukung kita. Tapi malah dari situ, gue belajar untuk lebih menghargai perjuangan hidup.

Maksud dari cerita gue ini buat pembelajaran bahwa ketika kita gagal di satu bidang, bukan berarti kita juga akan gagal di bidang lainnya. Kadang walaupun udah berusaha keras, semangat, dan nggak putus asa tapi masih aja mengalami kegagalan. Mungkin memang harus gagal dulu baru kita tau gimana sakitnya.
Gue memang pernah gagal sebelumnya, tapi gue juga bukan pecundang. Yang namanya perjuangan itu nggak akan pernah sia-sia, seenggaknya sampe detik ini gue adalah pembelajar yang terhormat. Mungkin gue gagal jadi atlet hebat, tapi gue cukup yakin banyak pasien-pasien yang nasibnya tergantung sama ilmu yang gue pelajari saat ini. Nasib membawa gue untuk mengabdikan diri di bidang kesehatan, sesuatu yang sama sekali lain.

Tapi perjuangan gue di bidang olahraga mungkin belum selesai. Sebagai orang yang tumbuh dari olahraga, gue merasa punya PR untuk mengembangkan bidang ini. Siapa tau suatu hari nanti gue bisa mengusahakan sponsor olahraga yang berkelas atau menjadi insan olahraga di kalangan atas. Siapa tau...
Gue nggak mau gagal lagi. Kegagalan masa lalu bukanlah sesuatu yang harus disedihin, tapi dijadiin motivasi supaya bidang yang kita tekuni sekarang nggak bernasib sama, supaya nggak berakhir dengan kegagalan juga. Amin!

A winner is not always a champion. Winner is winner, loser is learner. Yess, I'm a learner!
- Dresiani Mareti -

--->> Sebuah cerita perjuangan hidup saya sebagai seorang wongsoyudan yang bukan hanya menikmati karya, tapi juga berkarya.
Selamat ulang tahun Mas @Pandji #BalasDi18

You Might Also Like

0 comments

Please kindly do leave the comment.. Thanks :)

INSTAGRAM