Karma Does Exist

Ada satu kejadian dimana gue merasa bener-bener jahat. Ceritanya waktu pertandingan tenis beregu di Thailand tahun lalu.
Kejadiannya pas tim gue, Indonesia, versus Thailand. Nggak banyak orang Thailand yang bisa berdialog bahasa Inggris, begitupun orang-orang Indonesia termasuk personil tim tenis. Kebetulan, gue bertindak sebagai translator di tim sih bisa dibilang. Jangan pikir karena gue yang paling jago berbahasa Inggris, tapi gue cuma lebih berani ngomong aja daripada yang lain-lainnya walaupun salah-salah. Hahaha.

Dalam tenis beregu tuh ada 5 orang pemain: single 1, double, dan single 2, satu lagi pemain cadangan. Kadang waktu yang dimainkan antara ke-3 matches itu nggak bersamaan, jadi kita bisa ngasih support ke tim kita kalo lagi belum gilirannya main. Karena ada tim putra dan putri, jadi totalnya ada 10 pemain. Kita gantian me-manager-in tim. Misal kalo tim putri maen, tim putra jadi manager, begitupun sebaliknya.

Waktu itu gilirannya temen gue pemain single 1 putri yang main. Temen gue ini orangnya rentan cedera, apalagi kalo udah match diatas 3-4 jam gitu. Kebetulan kondisi lawannya, yang orang Thailand itu, juga lagi cedera ankle gitu deh. Walaupun skill permainannya diatas kertas sih diatas tim kita, tapi karena kondisinya lagi begitu parah, jadi kita optimis punya kans untuk bisa menang di match ini selama dia masih fit dan bisa bertahan main dibawah waktu 3 jam.

Ternyata sampe lebih dari 5 jam, match itu nggak kelar-kelar juga. Skor nya udah kejar-kejaran, hampir seri, mana pertandingan berlangsung ketat pula, jadi rasanya pengen cepet-cepet menang di match ini.
Nah di akhir-akhir si lawan mulai ngulah cedera nya. Sedikit-sedikit break, langsung dikasih spray therapy, semacam pain killer yang disemprot di pergelangan kaki nya untuk ngurangin rasa sakit akibat cederanya itu.

Takut kelamaan, udah khawatir ntar malah temen gue lagi yang cedera juga. Mungkin karena itu deh, timbul pikiran jahat di tim kami, yang menurut gue... agak sedikit licik. Mungkin. Beneran bukan gue yang mulai, tapi para cowok-cowok yang jadi manager kami yang ngasih saran awalnya. Mereka nyuruh gue translate,
"Dres, bilangin dong ke wasitnya. Harusnya dalam peraturan standard tuh nggak boleh di setiap break dikasih obat spray. Paling nggak 2-3 kali aja dalam 1 match, jangan keseringan."
Dalam hati sebenernya gue nggak tega sih ngomongin ke wasitnya. Tapi dalam posisi kayak gitu, nggak mungkin juga gue nolak, ntar kesannya nggak men-suppport tim sendiri. Tapi kalo gue ngomong, kok kayak jahat banget ya gue nggak mengharap kesembuhan si orang Thailand itu. Kan kasian juga dia tanding pas lagi cedera-cedera gitu, masa nggak boleh diobatin?! Gue sadar kalo itu pikiran brengsek yang seharusnya nggak pantes diomongin bagi orang-orang beragama. Sialan banget kan mereka malah nyuruh gue!

Dengan terpaksa lah jadinya gue translate juga, ngomong ke wasitnya yang juga orang Thailand. FYI aja, wasit ini sebenernya sempet clubbing bareng gue semalemnya. Jadi...entah karena udah ngerasa ce-es-an, atau memang peraturan tenis yang seperti itu, intinya dia setuju dengan protes-brengsek-gue. Gila kan dia baek banget! Mengingat dia kan juga orang Thailand, kenapa malah pro ke kita sih, bukannya ke lawan aja.

Nggak lama setelah diberlakukannya peraturan spontan itu (tentang larangan menggunakan pain killer spray setiap saat), kayaknya si atlet Thailand ini memang mentalnya hebat banget, dia kuat aja loh bertahan dan nggak gampang nyerah. Lama-lama keliatannya malah temen gue yang down ngeladeninnya. Match nya udah hampir 6 jam, brooo! Bayangin deh, orang sehat aja mungkin bisa tiba-tiba kram di tempat kali kalo main single selama itu. Lagi siang bolong terik-teriknya pula. Temen gue udah nggak sanggup agaknya, dan apa yang kita takutin sebelumnya kejadian. Dia ikutan kram! Cukup parah, kram dari kaki menjalar ke perut. Duh, kayaknya sih kena karma juga nih gara-gara tadi sempet licik ke lawan.
Dan yang nggak terduga, tim Thailand yang tadi kita jahatin itu bukannya bales dendam, malah mereka yang perhatian banget nunda pertandingan, ngasih pain killer spray, nyediain es batu, manggil tim medis. Pokoknya mereka ngebantu banget deh. Hal ini membuktikan mereka sebagai lawan sekaligus tuan rumah yang baik dan bertanggung jawab.

Akhirnya karena temen se-tim gue itu udah nggak sanggup lagi, kita nyerah dengan mengakui kekalahan. Ya, kita kalah, baik secara phisically, mentally, dan bahkan attitude.
Sedih sih. Tapi yaaahh... toh pada akhirnya terbukti juga siapa yang kuat tanpa perlu licik-licikan.

The double's match Indonesia vs Thailand


--->>> Itulah salah satu alasan kenapa gue adore Thai peoples. Selain karena tata krama yang baik, ramah, mereka punya kepribadian yang amazing. Mungkin nggak semua orang Thai begitu, ya tergantung orangnya masing-masing juga sih. Tapi secara umum, itulah yang gue simpulkan dari orang-orang Thai. Tanpa sadar, mereka udah mengangkat kebudayaan mereka sendiri di mata bangsa lain.
Dan tanpa bermaksud menyinggung SARA... Walaupun selama ini gue adalah penganut Buddhisme, tapi gue malah baru sadar dari orang-orang Thailand yang juga Buddhism itu tentang perasaan metta karuna (cinta kasih, kasih sayang) ke semua makhluk, nggak peduli kawan atau lawan.

Saat itu perasaan dosa gue makin menjadi-jadi...

GREEEEN

Gue nggak terlalu ke-jepang-jepangan sih orangnya. Tapi gue sempet pernah suka jepang sewaktu....hmmm sewaktu kapan yah, waktu SMP kayaknya. Gue suka baca komik Jepang, gue suka 'harajuku' style, nonton film dan anime-anime Jepang, punya idola Jepang, dan dengerin lagu-lagu Jepang.

Salah satu boyband Jepang yang gue suka banget dari dulu, GReeeeeN!


Bukan cuma karena semua personilnya adalah dokter gigi, bahkan gue tau ini dari sebelum gue bercita-cita masuk kuliah kedoteran gigi. Liat aja logo mereka simbolik membentuk sederet gigi yang lagi senyum kinclong. Tapi bukti musikalitasnya yang bagus, suara dan liriknya nggak pasaran dan kebanyakan memotivasi. Pas banget deh buat mood buster. Semacam ada karakteristik yang khas di lagu-lagu GReeeeN.

Mereka ber-4 (Hide, Navi, Soh, dan 92) membentuk grup ini sejak masih aktif kuliah, sampe sekarang mereka udah praktek bersama jadi doktergigi di Jepang sana dan masih tetep produktif ngeluarin album-album baru. Dengan mengusung aliran pop, rock, plus sedikit hiphop dan beat. Sangat enerjik, seperti lagu-lagu J-Pop kebanyakan.
 
Salutnya lagi, ternyata dibalik ketenaran mereka, GReeeeN merahasiakan identitas para personilnya secara misterius. Selama ini yang ditunjukkin ke publik ya cuma siluet-siluet ke-4 nya aja. Kalaupun ada event konferensi pers atau awarding, selalu ada yang mewakili mereka di panggung. Alasannya sih biar nggak mengganggu profesi keseharian mereka sebagai dokter gigi. Kadang gue heran, jaman sekarang kan banyak orang malah nyari popularitas, kok mereka konsisten aja ya dengan identitas misterius begitu? Hebat!

Sampe hari ini, mungkin para fans GReeeeN masih bertanya-bertanya gimana sebenernya rupa dan tampang mereka. Ganteng/jelek? Kurus/gendut? Mulus/berewokan? Tinggi/pendek? Yah selamanya bakal jadi rahasia sih selama mereka belum mengungkap jati diri para personilnya secara resmi. Tapi toh terbukti mereka menciptakan fans bukan cuma dari ketertarikan fisik semata, tapi melalui karya-karya yang brilian.



Beberapa tahun belakangan gue udah lupa sama yang Jepang-jepang itu, dan kemaren gue nemuin lagi lagu-lagu nya GReeeeeN di laptop. Tetep aja loh gue masih suka!
Berharapnya sih di FKG gue ada yang kayak gini. LOL!
INSTAGRAM