CHOICE

Thursday, December 04, 2014

Menurut kalian mendingan jadi pembangkang atau penjilat sih?



Mau share penderitaan mahasiswa nih. Katanya mahasiswa itu bebas berkreasi. Ternyata bohong. Kenyataannya kita masih aja terikat sama lembaga kampus dan beberapa oknum yang mengurusi keseharian kita.
Hmmm, mungkin susah ya buat orang yang punya latar belakang preman kayak gue untuk berubah 180 derajat jadi mahasiswa yang berbudi pekerti luhur. Gue memang suka semau-mau sendiri. Dan walaupun gue udah berusaha banget memperbaiki kelakuan, tetep aja nggak bisa sepenuhnya menutupi sifat yang udah tertanam. Rambut gue ombre pirang, pake rok di atas lutut, dan suka terlambat. Jelaslah kesannya gue bukan cewek baik-baik. Hahaha.

Kadang semua dijadiin kendala, apalagi dalam profesi medis. Beberapa staf pengajar merasa perlu menegur mahasiswa yang berpenampilan kayak gue. Jadi selama koass ini gue udah punya koleksi kasus di kampus karena hal-hal sepele semacam itu. Baru 3 bulan ngejalanin koass, dan di setiap departemen ada aja haters baru. Bahkan departemen yang kata mereka adalah surga, bagi gue adalah neraka. Asli nggak nyaman banget gue. Yah kalo bukan demi masa depan...
Gue sih oke-oke aja ya kalo misalnya dimarahin karena salah dalam pekerjaan, atau karena gue bodoh, atau ceroboh. Tapi ini cuma gara-gara penampilan! Itu sih udah semacam pelanggaran hak asasi namanya. Memangnya se-luarbiasa apa sih penampilan gue? Masih dalam batas wajar kok. Gue bukannya pake hot pants kan ke kampus. Apalagi setau gue nggak ada tuh peraturan tertulis yang melarang hal ini, yang berarti itu merupakan peraturan ilegal dari subyek-subyek tertentu aja kan.

Mungkin wajar-wajar aja gue meng-ombre rambut dan pake rok diatas lutut kalo seandainya gue mahasiswa jurusan fashion/design/seni. Tapi mengingat jurusan yang gue tekuni di kedokteran gigi, mungkin hal kayak gini jadi tabu. Gue masih bingung juga sih, kenapa coba harus dibedain? Kenapa orang-orang nggak bisa berpikir open-minded? Kan justru malah bagus kalo para mahasiswa kedokteran jadi stylish dan fashionable, nggak melulu dengan preppy look yang membosankan dari jaman ke jaman. Kita itu dinilai dari pekerjaan kita, bukan cuma dari penampilan luar. Jadi, kenapa harus dilarang berkreasi sebebas-bebasnya?

Ini bukan cuma cerita tentang gue. Gue punya temen cewek anak kedokteran yang bertatto di lehernya. Kalo rambutnya digerai memang nggak kelihatan, tapi sewaktu praktikum/lab rambutnya dikuncir dan kelihatan. Lagi-lagi ada aja staf pengajar yang sinis ngelihatnya, bahkan sampe nggak dilulusin ujiannya. Padahal dia merasa bisa loh ngejawab semua soalnya, dan hal itu nggak cuma terjadi sekali-dua kali. Udah remedial kesekian kalinya dengan dosen yang sama juga tetep aja nggak lulus. Sampe akhirnya dia nggak tahan dan mengundurkan diri dari kedokteran. Tau nggak gara-garanya apa? Cuma gara-gara dia bertatto! Luar biasa tidak adilnya.

Jaman dulu mungkin orang-orangtua dihormati karena kebijaksanaan mereka. Tapi sekarang jaman kan udah beda banget, dan kenyataannya nggak semua orang yang lebih tua dari kita itu lebih bijaksana. Beberapa bahkan masih cenderung labil layaknya abege. Herannya, generasi muda nya juga banyak yang nggak tanggap. Lingkungan di sekitar gue contohnya. Beberapa temen gue kalo udah ditegur sama orang yang lebih dewasa (misal senior atau dosen) langsung manggut-manggut. Bukannya dicerna dulu bener atau enggak. Seolah-olah mereka nyari 'aman', biar nggak berdebat panjang. Bahkan beberapa cenderung jadi penjilat, baik di depan, bergosip di belakang. Gue sendiri bukan tipe penjilat, ya kalo bisa dibilang gue pembangkang. Kadang gue gemes sih ya, rasanya hati ini pengen ngebangkang aja gitu kalo ada yang ngelarang-larang gue melakukan sesuatu. Makin dilarang justru adrenalin gue semakin terpacu untuk melawan. Hmmm kadang hal semacam keras kepala juga perlu, walaupun nggak di semua situasi juga sih bisa diterapkan, ya mau gimana lagi namanya demi pergaulan. Jaman sekarang sih harus banyak ngikutin kemauan orang kalo nggak mau punya banyak musuh.

Menurut gue, semuanya pilihan aja sih. Semua ada sisi baik dan buruknya. Mau jadi mahasiswa yang gaya, keren, dan stylish tapi harus berani menghadapi teguran. Hadapi aja, ya anggep sebagai latihan mental biar jadi orang yang lebih kuat menjalani cobaan. Toh di kehidupan nyata juga nasib kita nggak selalu mulus kok, pasti ada aja orang yang nggak suka sama kita dan tetap harus dihadapi.
Atau mau jadi mahasiswa teladan, baik, patuh, nggak pernah berkasus, tapi biasa-biasa aja dan mainstream. Menurut gue sih, jadi orang baik nggak harus dengan cara selalu mengikuti kemauan orang kok. Masih banyak cara lain jadi mahasiswa teladan, buktikan dengan prestasi misalnya.
Ya tergantung diri lo sendiri lah pokoknya. You decide!

You Might Also Like

1 comments

Please kindly do leave the comment.. Thanks :)