Mystery Addicted

Tuesday, March 25, 2014

Belakangan jadi candu bacain novel-novel detektif disela sela waktu nganggur gue. Selain dari karangan Sir Arthur Conan Doyle dengan tokoh Sherlock Holmes nya yang iconic itu, pastinya para penikmat novel misteri juga udah nggak asing lagi sama novel-novel karangan Agatha Christie. Yep, disaat Sherlock Holmes dianggap 'so last year' *walaupun ceritanya tetep tak lekang oleh jaman sih*, Agatha Christie menghadirkan cerita-cerita misteri yang lebih kekinian di era abad ke-20, lebih fresh, dan alur cerita yang unpredictable bagi masyarakat awam.



Sebenernya sih nggak bisa dibilang baru belakangan juga, awal perkenalan gue sama novel Agatha Christie malah dari kelas 5 SD karena di rekomen temen. Justru waktu itu pertama kalinya gue baca novel tebel, dan karena novel Agatha Christie yang brilian itulah gue jadi hobi baca novel sampe sekarang. Perasaan ketika kita selesai baca satu buku, dan jadi kagum banget sama tokoh utama bahkan sama pengarangnya, perasaan dimana kita jadi berpikir, "wah kok bisa ya?" itu loh yang bikin nagih.
Selain itu juga bacain tokoh-tokoh anak badung dan seri petualang kayak karangan Enid Blyton atau Astrid Lindgren. Nggak heran kalo sekarang moral gue jadi rada rusak, wong sejak dibawah umur gitu bacaannya udah kasus-kasus pembunuhan aja, hahaha. Kalo dulu bacaannya masih yang kumpulan kasus-kasus pendek, kalo sekarang mulai nyari yang lebih berat sampe ke karangan masterpiece nya.

Kadang baca novel nggak sekedar jadi hiburan semata, karena ternyata ada banyaaaaak banget ilmu dan moral yang bisa kita dapet dari isi nya. Apalagi novel terjemahan. Selain berimajinasi, kita juga seolah merasakan sendiri petualangannya dan menyerap budaya 'luar' yang beragam, yang konon katanya bisa merubah pola pikir secara global. Wuihhh berat ya bahasa gue! Tapi serius, gue ngerasain banget.

Sebagai contoh dari cerita-cerita kasus detektif itu kita jadi paham kalo ternyata kejahatan tuh muncul bukan cuma karena ada niat, kecerdasan pelaku nya, dan kesempatan, tapi juga semacam keberuntungan. Kejahatan pertama memicu kejahatan-kejahatan berikutnya, kedua, ketiga, dan seterusnya. Jadi kalo kejahatan pertama berhasil, jangan berbangga dulu, belum tentu kejahatan berikutnya bisa berhasil juga walaupun udah diatur strategi nya matang-matang, kali aja pas lagi sial, nggak beruntung. Misal deh mau ngerampok. Udah selesai ngerampoknya, rasanya udah berhasil kan, terus mau pulang dengan membawa keberhasilan itu, eh ternyata di jalan kepergok polisi. Nah kan sial tuh, ada niat dan kesempatan tapi nggak ada keberuntungan. Ngenes. Noted, pelajaran pertama buat jadi mafia!

Ada juga beberapa unsur kebudayaan yang tersirat di novel terjemahan. Disadari atau nggak ya oleh pengarangnya, kadang kita para pembaca jadi paham betul situasi setting tempat dalam cerita itu, padahal kita belum pernah kesana. Jadwal kereta api, stasiun perhentian, rumah tua, kebangsaan para tokoh, seolah-olah semuanya nyata di depan mata kita. Rasanya kita udah kenal banget sama si tokoh A yang berkebangsaan Belgia, tokoh B orang Inggris, si C orang Perancis, D orang Amerika. Lengkap dengan aksen dan logat-logatnya pun kita kenal. Yah, semacam pemahaman karakter sih, sambil belajar stereotype masing-masing kebangsaan juga. Lumayan kan buat wisata imajinasi.
"Very few of us are what we seem."
- Agatha Christie -
Terakhir, kita belajar untuk selalu menggunakan sel-sel kelabu otak kita dalam setiap pemecahan kasus. Begitupun dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari, don't leave your brain at home!


You Might Also Like

0 comments

Please kindly do leave the comment.. Thanks :)