Accept it, can you?

"Perbedaan pun terbukti berguna, selama ada toleransi."
- Mahatma Gandhi -
Kalo dibilang perbedaan itu menyatukan, sebenernya nggak juga. Perbedaan nggak ada hubungannya dengan kesatuan atau apapun. Beda ya beda. Jadi nggak usah nyama-nyamain ataupun berusaha supaya terlihat mirip.

Mereka sibuk berkampanye tentang pembauran. BERBAUR. Heh, berbaur yg seperti apa? Bullshit! Kenyataannya, masih banyak yg berkelompok dengan sesamanya. Yg sesama ras, sesama suku, sesama agama, sesama bangsa, sesama status sosial, bahkan sesama jenis juga.. (maksudnya disini sesama jenis dalam lingkungan sosial loh, bukan nya itu tuuuh "......")

Jangan munafik. Kita semua memang lebih nyaman dengan sesama kita sendiri, lebih nyambung. Kalo dalam agama Buddha ini bisa dijelaskan dengan hukum karma. Karma seseorang yg mirip dengan orang lain di kelompoknya sehingga bisa bertemu dan menjadi akrab satu sama lain dalam kehidupan itu. Walaupun berusaha membaur kayak apa pun, tapi kalo karma nya belum cocok, ya suatu saat tetep aja akan ada hal yg memisahkan. Mungkin lebih mirip kayak takdir. Membaur boleh, tapi kalo lupa sama asal usul sendiri, hati-hati aja jadi anak durhaka..

Tentang berbaur, gue rasa itu cuma 'etika sosial'. Cuma sebagai alibi supaya manusia-manusia itu nggak terlihat berkotak-kotak. Supaya terlihat lebih 'wajar' di mata dunia. Mungkin kalo hanya untuk bersosialisasi, berteman di lingkungan, hal ini nggak gitu jadi masalah. Masalahnya, apakah dalam berkeluarga masih perlu juga pembauran? Kita merasa sebagai seseorang yg sangat berbaur, temen-temen kita dari berbagai kalangan, dari berbagai suku dan ras. Tapi apakah kita yakin untuk mencari pasangan hidup yg berbeda kalangan juga?


Sebagai contoh kasus, kedua orang yg menikah berlainan kewarganegaraan. Jelas agak sedikit lebih rumit daripada menikah dengan sesama warga negara. Mereka harus ngurus surat ijin dari departemen negara masing-masing, tukeran belajar bahasa lagi, bingung nentuin kalo udah nikah mau tinggal di negara siapa, salah satu harus ngurus ijin pindah kewarganegaraan juga akhirnya, terus harus adaptasi lagi dengan budaya yg berbeda, belum lagi kewarganegaraan anak yg masih diperdebatkan. Salah satu negara harus rela kehilangan bibit muda nya. Yakin?

Juga kedua orang yg menikah berlainan status sosial. Yg satu tajir mampus, yg satu dari keluarga sederhana bahkan sangat sangat memprihatinkan. Dari konsumsi makanan sehari-hari aja udah beda, selera lidah nya beda, dari sikap dan pola pikir beda, kebiasaan dan tingkah laku beda, pergaulan juga beda, belum lagi pendapat orang-orang iseng. Si kaya disangka apes dapet si miskin, dibilang nggak bisa milih. Si miskin dibilang matre kedapetan pasangan kaya, dibilang nggak pantes lah. Yakin?

Atau kedua orang yg menikah berlainan agama. Apakah yakin akan menjalani sendiri acara keagamaan masing-masing? Dateng ke tempat ibadah sendiri-sendiri. Dan lagi lagi masalah anak yg harus memilih agama dari salah satu orangtua. Walaupun biasanya orangtua memberi kebebasan kepada anak memilih agama dari salah satu orangtuanya, tapi pasti ada gejolak batin mereka yg pengen kalo anaknya mengikuti agama yg sama dengan yg mereka anut. Jadi, pilih agama Papa atau Mama? Karena berarti salah satu harus ada yg dikecewakan karena agamanya nggak terpilih. Anak pun akan bingung.
Harusnya memang lebih enak kalo keduanya berkeyakinan/beragama sama. Mereka bisa beribadah bersama, merayakan hari raya keagamaan bersama. Keluarga akan terasa lebih hangat dan harmonis kalo kita merayakan acara keagamaan itu bersama-sama. Mendapat siraman batin dan rohani secara bersamaan. Percaya deh!


Walaupun banyak juga orang-orang yg bisa survive dengan perbedaan itu, bisa mengatasi rintangannya, tapi perbedaan tetaplah tidak akan pernah sama. Bisakah kalian menerima kodrat tentang adanya perbedaan? Apakah itu beneran 'wajar' atau cuma 'etika sosial' itu tadi? Kalo memang cuma etika sosial, seharusnya jangan sampe melibatkan keluarga. Untuk berkeluarga, harusnya dipikirkan dan pilih yg terbaik.. Ya, dunia memang panggung sandiwara sih ya, mau jujur banyak yg kontroversi, mau bohong juga perang batin. You decide it!

Cerita dibalik nama

Apalah arti sebuah nama..
Kenyataannya, nama itu berarti banget bagi manusia. Bayangin kalo kita semua nggak bernama, manggil orang cuma "eh, woy, coy, bro.." Nggak keren banget kan? Nggak ada spesial spesialnya gitu. Bahkan sekarang hewan peliharaan pun ada nama nya. Masih bisa bilang nama itu nggak penting?

Dan dibalik nama-nama itu pasti ada maksud tersembunyi. Maksud gue, semua nama punya arti masing-masing. Ya, orangtua lo nggak akan ngasih nama anaknya sembarangan atau asal comot gitu kan. Mereka pasti pengen anaknya punya nama yg bagus. Walaupun lo ngerasa nama lo aneh dan nggak bagus, tapi gue yakin sewaktu orangtua lo ngasih nama itu, mereka udah mikir berkali-kali untuk  nama itu dan pasti ada suatu makna yg membuat nama lo itu terkesan bagus di pertimbangan mereka. Dan akhirnya dipilih mereka jadi nama lo yg sekarang. Harus bangga!

Gue beruntung, gue terlahir sebagai seseorang bernama Dresiani Mareti. Kedua orangtua gue adalah jenis orangtua yg kreatif, mereka ngasih nama anak-anaknya lain daripada yang dipikirin orang-orang lain. Unpredictable banget! Menurut mereka, tadinya sih gue mau dikasih nama Desi Mareta. Tapi mereka pikir udah banyaaaak banget orang yg bernama Desi dan Mareta, dan mereka nggak mau nyama-nyamain. Terus nama gue dimodif-modif, dan jadi deh Dresiani Mareti. Selain itu 'Dres', walaupun cuma pake single 'S', bisa berarti pakaian terusan. Jadi mereka berharap bahwa nantinya gue akan jadi seorang pemerhati busana, yg rapi dalam berpakaian. Buset ya, bisa-bisa nya orangtua gue kepikiran gitu..

Gue beruntung orangtua gue nggak ngasih gue nama Inem atau Iyem, atau nama lain yg udah banyak dipake. Gue nggak bisa ngebayangin gimana rasanya kalo ada orang yg namanya sama dengan diri kita sendiri. Dan bukan maksud gue nama Inem atau Iyem itu jelek, tapi gue rasa gue memang butuh nama spesial, yg bisa diakui secara internasional. Hahaha, ngerti lah ya yg ada bule-bule nya gitu..
Kedua adek gue juga punya nama yg oke: Like Splendya dan Thomas Erdyka Pragana. Nggak ngerti apa yg ada di pikiran mereka waktu bikin nama-nama itu, tapi menurut gue mereka adalah orang yg sangat sangat sangat unik dan artsy banget! Gue selalu kagum sama orang-orang unik dan artsy, kayak kedua orangtua gue itu. Kalo saatnya gue punya anak nanti, gue juga pengen ngasih mereka nama-nama yg brilliant!

I love artsy people, like my parents. They give me the most unpredictable name in the world! My name is Dresiani Mareti, and I'm so proud of it!

Crazy Compromise


I never expect before that dentistry major should also learn about internist. But in fact, this is it! Although we must refer to the internist, but the first diagnosis still necessary.

Medical Compromise. They said 'Compromise', but I swear the topics doesn't compromise at all!
Then this subject really drives me crazy!


Don't disturb! In exam period~
I'm trying to put all those books into my head... Focus and concentrate!

Polymer femine watch

Can't help falling in love with this watch! A polymer feminine watch ♥



It's become my favorite! They have many styles of polymer type. But I choose this one, the black one! Looks great on my arm, and also fit for all my outfit.

I always love Alexandre Christie brand for watch, because of their prestige. Usually, the designs are so simple but unique. Timeless but fashionable. Stylish and elegant~ *not a promotion, seriously*


--->>> So, what's your favorite fashion item, guys?
INSTAGRAM