Shadowing Eternity

I'm not a model, not a photographer too. I just a girl who love being photographed.. Do you feel the same, girls?


 

Although I'm in the 'bad hair day' syndrome, but I think the results aren't really bad. Satisfied!


By the way, I'm 20 years old now. Hah, already have two-ahead! Thank you for the congratulations ya.. Appreciate it much!

Aksi muda tolak kenaikan BBM


Bahan bakar minyak a.k.a BBM memang jadi topik heboh beberapa hari ini. Dari semua obrolan di warung kopi, kampus, sampe status di jejaring sosial, semua mempermasalahkan ini. Dari lapisan masyarakat bawah, menengah, sampe kalangan atas. Ah bosen!

Puncaknya tanggal 26-27-sampai tulisan ini dibuat,28 Maret. Bahkan di kampus USU, para aktivis mulai kumpul untuk berdemo dari pagi, sampe selesai demo malem! Gue heran, mungkin sebagian besar merelakan jam kuliahnya. Demi ya demiiii! Mereka berkeliling masuk ke fakultas-fakultas, ngajak para mahasiswa dari fakultas apapun untuk ikutan gabung demo menolak kenaikan BBM. Heboh! Bayangin aja, sampe masuk fakultas segala!

Gue yakin, para mahasiswa aktivis itu bukanlah orang-orang bodoh. Mereka pasti tau banget kok dampak nya berdemo. Mereka juga udah tau bahwa nggak akan ada perubahan lagi tentang kenaikan harga BBM. Berapa persensentase BBM nggak jadi naik hanya karena para pejabat mendengar aksi mereka? Kenyataannya, kenaikan harga BBM itu udah diatur sama para pejabat negara, udah keputusan mutlak. Jadi rasanya, sangat membuang-buang energi banget ya ikut berdemo, panas terik, jalan kaki jauh-jauh, cuma untuk teriak di toa dan mengganggu lalu lintas. Bikin macet! Nah, jadi buat apa? APA?!

Mereka bilang, mahasiswa itu 'agent of change'. Beh, kedengerannya memang kereeen banget kan! Padahal dipikir-pikir, kenapa harus mahasiswa yang disebut-sebut sebagai pembawa perubahan itu? Memangnya mahasiswa bisa apa? Kalo cuma menyampaikan aspirasi, semua orang juga bisa, nggak perlu jadi mahasiswa dulu. Mahasiswa bisa berdemo, petani pun berdemo, buruh pabrik pun juga berdemo. Mereka semua sama aja, sama-sama suka berdemo. Nah, jadi kenapa mahasiswa disebut lebih keren? KENAPA?!

Semua orasi berasal dari mahasiswa. Mereka bilang, "jangan ngaku mahasiswa kalo belum beraksi". Oke, gue memang mahasiswi. Tapi sorry kalo gue nggak mendukung aksi demo. Gue bukannya nggak demokratis, tapi gue cuma berpikir realistis aja sih. Tenang aja, status mahasiswa/i nggak akan berubah cuma karena lo nggak ikutan demo.
Aksi? Makan tuh aksi! Yah itu pun, kalo bisa dimakan~

Jadi, apa motif sebenernya dibalik aksi demo itu? Ya, logika aja sih. Mahasiswa itu pemuda. Pemuda itu butuh eksistensi. Nggak perlu mengelak, udah jadi rahasia umum bahwa semua orang ingin dikenal publik. Bahkan gue yakin, cuma segelintir dari para pendemo itu yg bener-bener niat menyampaikan aspirasinya. Sebagian cuma diam, sebagian kipas-kipas, sebagian pengen ikut seru-seruan, sebagian tebar pesona, sebagian pengen ngerasain gimana sih rasanya turun ke jalan, dan sebagian lagi cuma ikut-ikutan temen dengan alasan solidaritas. Semakin heboh, semakin rame, maka mereka akan semakin senang. Hahaha, ngerasa belum gaul kali ya, bung, kalo belom ikutan berdemo?! Kalo gitu harusnya ajakan demo nya diganti, "jangan ngaku mahasiswa gaul kalo belum ikutan demo!"


Gimanapun, mahasiswa berdemo itu wajar, bahkan demonstrasi itu dilindungi UU loh. Asalkan nggak anarkis. Tapi, melihat antusiasme para demonstran, siapa yg bisa nge-jamin bahwa nggak akan terjadi tindakan anarkis? Gimanapun, demonstran juga manusia. Kalo udah teriak-teriak dari pagi-sore, jalan kaki jauh, dan kejemur, tapi aksi nya nggak dipeduliin, pastinya mereka panas dan jadi emosi. Akhirnya? Bisa ditebak orang yg lagi emosi bisa memunculkan tindakan anarkis. Walaupun nggak diladenin, paling nggak, ada rasa puas kalo udah menghancurkan sarana-prasarana umum lah ya..
 

--->>> Pada akhirnya, jangan salahin mahasiswa berdemonstrasi rame-rame. Ini semua cuma masalah usia, dan jiwa pemuda yg masih labil~

Second-hand-class



Sebagai anak tertua, gue beruntung dalam hal konsumsi pakaian. Gue nggak harus pake bekas kakak (siapa juga kakaknya -__-), karena nyokap selalu ngebeliin baju baru buat gue. Dan untungnya lagi, dari kecil gue udah terbiasa milih baju-baju yg gue suka sendiri. Kalaupun nyokap campur tangan, paling cuma komentar pilihan gue itu bagus/pantes-nggak nya. Selanjutnya, gue yg menentukan sendiri apakah gue jadi milih baju itu atau nggak.

Karena kebiasaan gitu, membentuk suatu pola pikir tersendiri kali ya buat gue, kayak style, selera, dan pandangan gue dalam membeli pakaian. Gue lebih suka membeli sesuatu yg baru. Gak masalah walaupun murahan, yg penting barang baru, bukan second-hand.
Bukan nya karena gue sok, terus nggak mau pake barang bekas orang lain. Tapi lebih ke hygienitas (ntah tulisannya bener apa nggak) sih ya. Gue mikir, gimana dong kalo pemilik pakaian itu sebelumnya punya penyakit kulit menular?! Ihh walaupun udah dicuci kan tetep aja masih ada jijik-jijik-nya deh gue mah!

Jadi gue pernah sekali beli barang second-hand di garage-sale gitu. Modelnya sih masih pada bagus, penjualnya pun cakep-cakep, modis, dan barang dagangannya itu bekas dia sendiri katanya sih. Tapi pas gue laporan ke nyokap,
"Mi, tadi cece beli baju lagi..."

"Oh bagus nggak baju nya? Beli dimana?"

"Di garage-sale, Mi. Baju bekas gitu deh.."


"Hah, ngapain sih cece beli baju bekas orang! Mami nggak pernah ngajarin gitu ya, jangan lagi beli yg bekas bekas!"

"Yah abis murah-murah sih. Kan cece jadi tergiur pengen beli juga.."

"Biar murah juga jangan lah, ce. Mending cece beli yg baru aja, kalo kurang duitnya nanti mami tambahin. Asal jangan sering sering aja beli baju terus!"
See?!! Nyokap gue sendiri loh yg ngajarin begitu, bahkan gue disediain budget lagi buat beli baju baru. Setau saya, biasanya orangtua mengajarkan penghematan.. Nah, jadi ya jangan salahin gue kalo itu membentuk karakter 'high-class' di gue! Yah, gue nggak tau itu ajaran yg baik atau nggak, tapi yg jelas gue cuma salah satu orang beruntung karena mendapatkan nyokap se-pengertian begitu.. *ah senangnyaaa*

Tapi ada juga beberapa baju gue yg merupakan turunan kok. Ada baju longgar dari bokap, ada juga rok jadul dari nyokap. Lebih tepatnya sih bukan turunan ya, tapi hasil nge-rampok, karena gue sendiri yg minta. Hahaaa. Bahkan baju-baju turunan orangtua gue itu sekarang masih jadi favorit gue!
Baju-baju gue sendiri yg masih bagus tapi gue udah males pake atau kekecilan, gue turunin juga ke adek-adek gue. Dan gue suka pinjem pinjeman baju sama mereka, tuker tukeran. Jadi sedikit-banyak, kegiatan barter second-hand itu sendiri terjadi juga di dalam keluarga. Kalo ini sih nggak masalah.


Sorry kalo kesannya gue belagu, sok kebanyakan duit, sok jijik bekas orang. Ya, itu sih tergantung prinsip masing-masing orang ya. Nggak bisa dong menilai orang dari segi konsumtif nya aja.
Ngambil sisi positifnya, hal ini bisa jadi motivasi buat gue. Gue boleh suka sesuatu yg berkelas, untuk sekarang sih dana nya full masih dari orangtua, karena gue belom punya penghasilan sendiri. Dan memang belom terpikir ke arah situ. Gue bahkan nggak berminat mencari job sampingan saat ini. Selain karena gue nggak punya skill yg memadai, gue juga belom bisa berkomitmen dalam pekerjaan. Lagipula, gue lebih suka mengisi waktu luang dengan berolahraga atau kadang seru-seruan bareng temen. Ya, selama budget dari orangtua gue masih mencukupi...
Bukan manja yg mau gue tekankan. Tapi ini lah motivasi! Gimana caranya suatu saat gue bisa memenuhi kebutuhan 'barang berkelas' gue sendiri, seperti orangtua gue memenuhi kebutuhan gue selama ini. Gimana caranya supaya gue masih bisa mengisi waktu luang gue dengan hal-hal yg gue suka tanpa harus dibebani pekerjaan berat. Untuk itu, sekarang gue fokus di satu cita-cita aja. Nggak mau sibuk ngambil job sampingan, ngejer ke kuliah dulu, supaya bisa total mendapatkan kerjaan yg berkualitas juga kedepannya.

--->>> Pintar mengkonsumsi, maka harus pintar juga dalam mencari dan mempertahankan penghasilan, supaya nggak lagi cuma minta dari orangtua. Yeaaahh!

Stadium flirting

In my campus, there are many UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Something like extracurricular activities. And most of them are specializes in sports. I join tennis club since I was a fresh student here.

FYI, nowadays my friends in tennis club are looking for someone at the next ground, yes at the stadium! They're searching for the football athletes *Not including me ya, I just accompany them*. 

So, we do the physical training in the stadium as a reason to come there. Hahaa, it's just about teenage tactics.. Although our coach has been angry with them, because if they were already in the stadium, they will be there for a long time before return back to the tennis court. Hahaha, what a coquetry of girls~


The boys are playing football at the stadium, and we are just jogging around. Sometimes, they're smiling to us. And my friends smiling back for them. Euuhh!

I don't like it actually. I'm not like the other girls type, I don't like flirting like this. I don't like football players. Seriously, although I really appreciate the athletes, but I'm not looking for them. I don't know why, maybe my standards are well above it :D.. And over all, what my friends did aren't my type. I just want to have fun there! Who's forbid it?


--> Yah, sometimes watch they're flirting is just a funny thing to do. Just waiting for the athlete-couples, waiting for free foods, hehee :)

Congratulations!

Musyawarah Daerah III PATRIA - Dewan Pengurus Daerah Provinsi Sumatera Utara
Minggu, 18 Maret 2012
Ruang Video Conference Kampus C, STMIK-STIE Mikroskil

PATRIA (Pemuda Theravada Indonesia) merupakan organisasi kepemudaan, berbasis Buddhisme Theravada. Musda ini selain dihadiri pengurus DPD nya sendiri, juga dihadiri peninjau dari DPP (Dewan Pengurus Pusat), DPC (Dewan Pengurus Cabang) Medan, DPC Asahan, dan juga pemuda/i pengurus vihara.


 

Kurang lebih sama seperti sidang musyawarah organisasi lainnya. Meliputi laporan pertanggung-jawaban kegiatan selama periode kemarin, serah-terima kekuasaan, pemilihan ketua-wakil DPD untuk periode kedepan, pelantikan, dan bla bla bla..

Sidang berlangsung saaaangat lama! Pagi-sore. Jadi deh bawaannya gue udah yang beteee aja.
Nggak usah ditanya lagi, orang-males-rapat kayak saya cuma terkantuk-kantuk di kursi, nggak ngerti apa aja yg dibahas dalam sidang. Kasian sekali -___-

Serah-terima jabatan


Pelantikan
di Vihara Mahasampatti, Medan
Selamat kepada ketua-wakil terpilih DPD Patria Sumut 2012-2015:
William Jotikaro - Tri Melda
Salam-salaman...
Tapi ini belum selesai! Kedepannya, masih ada rapat kerja membahas agenda kegiatan selama periode ini, dan susunan pengurus baru. Yah, siap aja untuk ber-ngantuk-ngantuk lagi. :D


Btw, selamat juga buat ketua-wakil terpilih di DPD Lampung. Bagaimanapun, gue pernah menjadi bagian dari mereka... :

Selamat mengabdi! Semoga semakin maju dalam Dhamma.
Semoga semua makhluk turut besuka cita..

D-E-N-T-I-S-T

Just because there's no activity which is more qualified for me, then I thinking about the philosophy of dentistry.. No offense, just for fun :D



In dentistry major, we don't just merely learn about teeth, medicine, disease, and oral/mouth. But also another subjects. That's all special, because to become a dentist, we must also have other abilities. Nowadays, if you only clever in academic is not enough!
Drugs/pharmacy
Entrepreneurship
Notch
Technology
Integrity
Style
Technique
Moreover, also there's psychology, nutrition, society, arts, numeral, and many others subjects! Can't be called one by one. Yes, dentistry is a kind of science that covers almost the whole of science. That's complex for sure. But it's about quality of life. The knowledge couldn't be this much fun without the joy in it... Just enjoy the knowledge, so the world will stop moving *random theory*. Hhahaha!


Today I wanna say: Happy International Women's Day to women, girls, and us all!
In this era, let's shout "Women on top!" Yaiyyyy..