Unbeaten yet

Punya adek yg rese-rese sebenernya bikin gue ilfeel. Dulu mah pas kecilnya lucu-lucu, imut, disuruh-suruh mau. Eh udah gede malah rasanya pengen gue timpuk.
Gue punya 2 anak kecil rese, Like sama Thomas. Gue gak pengen bikin mereka ng-eksis di blog ini, jadi gue gak akan cerita tentang gimana rese nya mereka berdua itu.



Sekarang ini, gue lagi ribut sama yg laki, Thomas. Gak tau juga lah ya, gue sih sebenernya gak pengen ribut-ribut sama saudara. Tapi nih anak semakin gede semakin ngelunjak aja sih, nyolot, bikin orang emosi, ngajak berantem. Gue juga sebenernya gak mau ngeladenin, malu gue berantem sama anak yang level nya jauuuuh dibawah gue. Gimana gak emosi coba kalo punya adek gak respect sama cece nya. Sok jago, sok kuat, dia pikir bakalan menang berantem ama gue. Hhahhaa, padahal mah cupu!

Dia memang laki, badannya jauh lebih tinggi dari gue, dan tenaga nya memang kuat. Tapi seberapa kuat sih tenaga anak SMP dibandingin sama gue yg 7 tahun lebih tua dari dia? Oke, gue ngaku belakangan ini dia memang lebih kuat daripada dulu-dulu. Tapi sorry aja, gue sih gak gampang dikalahin!
Gue sadar sih, beberapa tahun kedepan dia bakal menang. Ya, seiring pertumbuhan usia, tenanga dia kan jadi semakin kuat juga. Apalagi dia laki-laki dan gue perempuan, pasti bakal kalah jauh nantinya. Dan gue yakin kalo nanti dia udah menang, dia bakal semakin gak respect lagi sama cece-cece nya.
Kayak adek gue yg perempuan, Like. Mungkin ya karena dia perempuan, gak bisa menang sama Thomas. Si Thomas udah gak ada respect-nya lagi sama Like, ngelawan aja terus kalo Like marahin. Kasian juga sih sama Like sebenernya, gak dihormatin gitu dia sama adek sendiri. Dulu waktu gue masih tinggal di rumah, gue yg suka ngebelain Like kalo lagi di-bully. Tapi ya sejak gue jauh, jadi Thomas makin berani aja nge-bully cece nya yg satu lagi itu.

Dan karena suatu sebab, udah beberapa hari ini HP nya Thomas gue sita. Jadi gue ambil HP nya, terus gue umpetin di suatu tempat yg gak bakal bisa dia ubek-ubek. Sukurin! Gue juga udah gak mau ngobrol lagi sama dia, males. Gue mau tau, sampe berapa lama sih dia tahan gak punya temen di rumah? Seberapa tahan dia hidup tanpa HP? Pokoknya gak bakal gue kasih tuh HP kalo dia belom mau bertanggungjawab sama perbuatannya.


Bukannya karena gue cece yg jahat. Bukan juga karena mereka udah pada gede, terus gak lucu lagi, terus gue jadi gak sayang sama adek gue yg rese itu. Tapi justru karena gue sayang, jadi gue ajarin dia buat lebih respect lah sama orang yg lebih tua. Sebenernya sih gue agak gak tega juga ngebiarin dia hidup tanpa HP gitu. Kasian lah. Gue ini kan orangnya suka gak tegaan, apalagi sama adek sendiri. Tapi ya gue tahan-tahanin aja. Abis kalo gak gitu, dia gak kapok sih.Yah, mau sampe kapan sih dia terus-terusan sok jago di rumah? Kadang sama nyokap-bokap juga nyolot kalo dinasehatin. Udah gila kali ya dia, gue aja gak berani nyolot sama mami papi.

Yah, kadang jadi anak paling tua itu memang enak, disegenin adek-adek. Tapi sebenernya, gue punya tanggung jawab moral yg lebih besar. Gimanapun, anak pertama itu adalah panutan. Kalo gue gak bisa ngasih pelajaran yg tepat ke adek-adek gue, dan akhirnya mereka salah jalan, ya sedikit-banyak itu karena pengaruh gue juga.
Jadi intinya, gue cuma pengen bikin mereka sadar diri aja, kalo gue ngehukum tuh bukan berarti gue gak sayang. Gue sayang bener kok sama adek-adek gue. Kadang kalo gue jauh gitu ya, suka kangen. Bahkan gue lebih duluan kangen sama adek-adek gue itu daripada sama mami-papi. Hhahaa, kurang ajar ya gue?
Tapi dimana pun gue, gue tetep aja kangen rumah, kangen mami-papi, kangen adek-adek gue. Ah, gue ini anak rumahan sih, jadi bawaannya ya manja mulu, kangen terus :p


Keterangan Gambar
Talented: Dres, Like, Thomas 
Location: Unila, Museum Lampung
Camera: Nikon D3100

L or M?

Bukan, gue bukannya mau ngomongin ukuran baju atau celana. Bukan juga mau ngomongin orang. Nggak deh ngegosip.

L yang gue maksud itu untuk Lampung, dan M untuk Medan.
Dalam waktu dekat ini sekitar akhir Juli, bakalan ada PORSENI (Pekan Olahraga dan Seni) tingkat Nasional gitu, yang diadain di Cibubur, Jakarta. Setiap provinsi/daerah harus ngirim perwakilan untuk ikut berpartisipasi mewakili daerahnya masing-masing di Porseni Nasional ini.


Masalahnya, gue bingung harus ikut mewakili Lampung atau Medan?
Secara lo tau sendiri, Lampung ini kota kelahiran gue, gue besar disini, rumah gue disini. Terus mentang-mentang sekarang gue udah kuliah di Medan, masa jadi gak ikut tim Lampung lagi? Gue ngerasa jadi sombong banget aja, kayak kacang lupa kulit. Huahh, kadang tinggal di kota sendiri juga gak selamanya bisa bebas.
Di lain sisi, gue sebenernya ngerasa gak enak juga sama orang-orang Medan kalo gue ikut tim Lampung. Ya, udah setahun gitu gue tinggal di Medan, dan masih ada tahun-tahun berikutnya gue bakal di Medan *walupun gak tau juga sih bakal sampe kapan. Tapi masa iya gue tega gak ikut tim Medan sih? Dimana bumi berpijak, disitu langit dijunjung. Iya kan?


Pertimbangannya:
Sekarang ini gue lagi liburan di Lampung gitu. Gak mungkin kan gue balik ke Medan terus gabung tim Medan, terus bareng-bareng pergi lagi ke Jakarta? Ongkos nih bolong. Jadi mending sekalian dari Lampung aja. Lagipula, tim Lampung ini jumlahnya banyak, dan rata-rata pesertanya tuh seumuran gue. Jadi ya gue berasanya lebih seru aja kali ya.
Sedangkan tim Medan, mungkin cuma ngirim beberapa orang aja, kekurangan orang karena mereka rata-rata udah pada kerja jadi gak bisa ambil cuti (nah ini yg bikin gue makin merasa bersalah, kenapa harus kekurangan orang?).

Pas kemaren gue minta ijin sama tim Medan untuk ikutan mewakili Lampung aja, mereka emang ngijinin sih sebenernya. Tapi ya kayak agak kecewa gitu nada nya,
"Oooh ya udah, gak apa-apa kalo kamu emang mau ikutan yang sana sih. Hehhee"
Ihh asli gue jadi gak enak hati banget gitu kemaren, sampe kepikiran terus *lebih.

Malah pernah gue ditanya sama panitia di Jakarta,
"Dresi, nanti PORSENI kamu ikut Lampung atau Medan?"

"Wah belum tau juga, kayaknya malah gak ikut apa-apa. Abis aku nya juga gak bisa apa-apa sih. Hhehee :p"

Lo tau gak cabang apa yang gue ikutin?
BADMINTON.
Ya, kenapa badminton? Padahal kan gue gak bisa-bisa amat maen badminton?
Karena kemaren gue diajak maen double putri sama tim Lampung. Karena gue pikir maen double gak terlalu berat, ya udah akhirnya gue mau aja.
Nah gimana misalnya kalo gue ikut tim Medan, mau maen double ama siapa coba gue? Pesertanya aja gak banyak yg turun. Bisa-bisa gue maen single sendirian. Duhh, mana bisa lah gue. Gue ini kan gak bisa apa-apa. Hhahhaa :D


--->>> Yaudahlah, mungkin emang lebih baik ngedukung kota kelahiran kali yaaa. Kalo menurut lo, pilih yang mana?

Between the environment and attitudes

"Our environment determines our attitudes."
I realize that when I noticed my environment, either families nor friends. Yah fortunately, so far I grew up in a good families. At least, 50% of my attitudes specified from that.

FYI, I see my father and mother are very religious. Every week pray in the temple and everyday in home, give their children the wisdom advices, teach us to be religious too. Oke, we count the points for the faith.
They are also good in sports, doing exercise and go to fitness regularly, also maintaining the healthy and nutritious foods. That's the plus points for health.
They're very strong, they're never complain when working, and deligently organized their bussiness together. Count the points.
They have love, the harmonious family, pay attention to their children, care one another. Huahh, how many points that I get? Amazing to say that I have this good family!
(I know that everything can change, and everything can happened in my good family. But I really enjoyed my family like this. I just hope it will be long last.)

And the next 50% are from friends and groups. We should be wise to select them. Not all friend can be a good friend. Sometimes a lot of friends just looking for the benefit, even some friends are misleading us. However, we need to be more selective.

Selective doesn't mean that you are an arrogant person. No, it's NOT! But it's about how you can protect your life from the outer interferences, and also keeping your mind healthy. Isn't it?

LF 2011

Attended the Lampung Fair 2011 with my sister, @LikeSplendya, just 2 of us. At PKOR area on last Monday night. Still very crowded although it has been held since 1 week ago. Many peoples come in!
This event is such as the public festival. Something like business expo, food expo, book fair, exhibition, cultural and arts, automotive contest, band contest, show performance, and many more. It will be held until July 18th. So if you haven't come yet, still have time to visit.

The tickets
You have to buy the ticket to enter the LF area, only Rp 5000 for one person.

 That was behind me is 'SIGER' symbol, the distinctive Lampung's symbol.
Usually, Siger worn on the head of the bride.

The main stage
See that Siger is everywhere!

Miniature of the government offices in one district

Maybe tomorrow I'll go there again with my Mom and also asking our maids to join. Yah sometimes they need to entertainment too :)

Lika liku si pengendara muda

Di post ini, gue pengen ngebahas tua-muda dalam konteks 'pengendara'. Yess! Kenapa harus pengendara? Karena di jaman serba transportasi ini, di jalan raya tuh udah banyak pengendara muda, baik mobil ataupun motor. Dan gue sebagai salah satunya, perlu menegakkan emansipasi (waahh bahasa gue dong!) sebagai pengendara muda itu.
"Yang tua yang lebih berpengalaman".
Iya sih ya, memang. Orang yang lebih tua itu kayaknya lebih banyak makan asinnya garam di laut, dibanding yang muda-muda. Pernah dulu ada iklan rokok yg bilang gini,
"yang muda yang gak dipercaya"
Memang bener apa gitu?

Photographer: 4121
Location: kawasan tugu muda semarang
Read the story behind this image on Deviant.art

Gimanapun, yang muda memang harus respect ke yang lebih tua. Dan sebagai pengendara, kadang ya kita harus mendahulukan penyeberang jalan, apalagi kalo penyeberangnya itu udah lanjut usia. Terus ya ngalah sama sesama pengguna jalan, terutama sama bapak-bapak dan ibu-ibu yg sok tua. Tapi kan keki juga dong, kalo seterusnya yang muda gak pernah di-respek sama yg tua. Apa-apa nyalahin anak muda, padahal kan gak selamanya yg muda itu salah!

Contoh nih, lo lagi nyetir (mobil/motor, terserah lo deh), terus tiba-tiba ada yg nyerempet lo. Ternyata yg nyerempet itu pengendara yg lebih tua jauuuh dari lo, dan dia malah marah-marah. Sebel gak sih? Yang salah siapa, yang marah-marah siapa coba!
Boleh aja kok marah-marah kalo emang dia gak salah sih. Boleh juga marah-marah kalo emang dia lebih tua. Ya tapi diliat juga, kalo emang dia yg salah, yaudah gak usah nyolot! Gak usah mentang-mentang lawannya anak muda, terus berasa menang. Apalagi kalo sampe ngabur segala gara-gara takut. Ihh, gak banget ya, cemen! Norak tau gak, kampungan!

Intinya, di mana-mana memang pasti ada genre tua-muda kayak gitu. Dan maklumin aja lah, kalo anak muda sering diremehin, dianggep cuma maen-maen, dianggep gak bisa nyetir, bahkan yg lebih parah nya gak deanggep sama sekali. Tapi menurut gue, salah ya salah aja, mutlak! Gak ada istilah tua-muda kalo menyangkut kesalahan itu. Salah ya salah, bener ya bener. Jadi, gak usah pake nyolot kalo emang salah, apalagi ngabur! Cupu abis. Kalo emang gentle, ya tanggung jawab dong.


PS: Dibuat berdasarkan pengalaman temen gue, yg pernah dimarah-marahin sama om-om pengemudi mobil yg pengecut, norak, dan gak bertanggungjawab.