The Beauty of West Kutai

Nothing beats Indonesian richness when it comes to multi-cultural with its traditional fabrics and textiles. Now is the time for "Tenun Ulap Doyo" and " Sulam Tumpar" from West Kutai, East Borneo.

The Beauty of West Kutai
October 3rd, 2018
at Pelataran Ramayana - Hotel Indonesia Kempinski Jakarta

This event is a collaboration event among Kutai governor and also creative industries, also Ms. Lia Candrasari as event initiator to present the natural process of Tenun itself and how they transform it into ready-to-wear fashion nowadays. Who would have thought that the idea of making this big event is originated from the small talk of group travelers who were fascinated by the natural beauty of West Kutai... and they are breaking a leg!

Serenade of Tenun Doyo
by Billy Tjong
Exclusive Collection by MADEIND X Billy Tjong 




The current mission is introduce this "Tenun Doyo" to be as popular as another Indonesian traditional fabrics like North Sumatera's Ulos, South Sumatera's Songket, and even as Javanese Batik pattern.

From the opening dance before the show, also shown the making of materials which is made by Doyo leaves, where can only found in East Borneo. So, they aren't made by regular cotton like many fabric use. This creative process really makes this ethnic fabric more special, because they are different even from the very beginning.

As we know, fashion is universal language. No matter where it is made, the most important thing is how to style them properly. Fashion today should not only focus on selling, but also the ways we can make a difference with social issues directly. Cultural and heritage, remembering these young peoples do not want to know some kinds of traditional clothes. Maybe this issue isn't a huge reality in our country, but when we realize some peoples are turning a blind eye doesn’t erase the issues.
That's why...since it is the new form of our local heritage, then if I could say these collections are going trending topic, surely it doesn't too much.




There's also fashion film preview, directed by Reza Bustami. Book launching about "Tenun Doyo and Sulam Tumpar" Seni Wastra Kutai Barat by Syahmedi Dean. The event will continue with photography exhibition "Potret Indah Dayak Benuaq" at Hotel Indonesia Kempinski, by Honda Tranggono.

Yayyy, congratulation for the peoples behind who make this show extravagant! Support our local brand... And thank you for inviting me :)




#CeritaDariHutan: Hutan Trembesi De Djawatan

Banyuwangi sebagai kota dengan berbagai kawasan eko-wisata terpendam, banyaknya pantai dan gunung di sekitarnya menjadi tujuan para wisatawan saat ini. Namun, yang membuatnya berbeda adalah adanya objek wisata hutan yang dikelola oleh Perhutani. De Djawatan merupakan objek wisata hutan yang terletak di Banyuwangi, Jawa Timur. Lokasi yang tidak jauh dari perkotaan serta suasana teduh dan nyaman, membuat saya terkagum bahwa kita memiliki hutan se-indah ini di Indonesia.




Rindangnya pohon trembesi tua, dengan tumbuh-tumbuhan pakis yang menjalar hidup di antara batang pohonnya membawa kita ke dalam fantasi tentang berada di kawasan magis, dimana para raksasa akan mengejar buruannya dan peri terbang bebas di sekelilingnya. Maafkan imajinasi saya... Bahkan sebelum Tim Burton mengubah persepsi kita dengan memvisualkan kisah fiksi 'Alice in Wonderland', kita sudah memiliki imajinasi sendiri tentang kelinci yang tiba-tiba keluar dari salah satu lubang pohon di hutan.

Insipirasi yang sama saya dapatkan disini, entahlah mungkin memang saya selalu suka berada di tengah hutan. Kita bahkan bisa bersembunyi di balik warna hijau yang menyejukkan, sinar matahari hanya berani mengintip dari celah rimbunnya dahan pohon. Warna-warni yang kontras pun ditambahkan sebagai wajah baru dari hutan wisata ini.

Ketika berkeliling menyusuri hutan, kita akan menemukan rumah pohon disana! Yang saya suka dari rumah-rumahan yang terbuat dari kayu ini adalah betapa sejuk dan damainya. Berapa banyak dari kita yang sewaktu kecil dulu selalu bermimpi untuk bisa memilikinya? Hmmm, rasanya tidak apa-apa kan orang dewasa seperti kita memanjat rumah pohon sesekali, menyembunyikan diri dari paparan sinar matahari yang sudah saya dapatkan selama beberapa hari berwisata pantai di Banyuwangi.





Faktanya, keragaman hutan di Indonesia dapat menjadi manfaat kreatif yang lain, ekowisata misalnya. Bukan tidak mungkin bahwa suatu hari nanti, kedepannya kita akan menemukan hutan-hutan lain yang ternyata menyimpan potensi tersembunyi, disamping sumber daya alam yang tiada habisnya dalam suatu ekosistem hutan.

Dengan mengunjungi hutan, pengetahuan kita tentang tumbuh-tumbuhan akan semakin bertambah, bahkan semakin tergelitik untuk memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru tentangnya. Rasa ingin tahu yang besar justru membuat kami semakin penasaran.
Saya sendiri masih bertanya-tanya tentang bagaimana mereka memelihara hutan yang kini sudah menjadi kawasan wisata terbuka seperti De'Djawatan ini, tanpa menghilangkan fungsi hutan itu sendiri, yaitu sebagai kawasan lindung yang menyimpan banyak unsur hara dalam tanahnya. Adakah hewan-hewan buas dan liar di dalamnya? Masih adakah hutan yang belum terjamah?

Saya sudah beberapa kali mengunjungi hutan wisata di Indonesia, antara lain Taman Nasional Gunung Leuser di Sumatera, Taman Nasional Gunung Bromo di Jawa Timur, serta Taman Nasional Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat. Semuanya memiliki potensi yang berbeda, dan dari perjalanan masing-masing hutan tersebut saya membawa pulang pengalaman yang tidak sama pula. Keadaan geografis wilayah dan kesuburan tanah tentu menjadi penentu jenis-jenis tumbuhan di dalamnya.

Semakin dipikirkan, saya pun menyadari bahwa pada kenyataannya hutan akan kembali ke fungsi utamanya, sebagai habitat para satwa, juga sebagai jantung bagi negara kita, Zamrud Khatulistiwa, karena jika dilihat dari atas maka hijaunya pepohonan diantara lautan Archipelago terlihat seperti batu Zamrud yang mengapung diatas birunya lautan. Kita seharusnya bangga dengan julukan ini, tidak banyak negara yang terkenal karena keindahan alamnya. Kehijauan hutan-hutan tersebut wajib dipelihara kelestariannya, bukan malah melakukan illegal logging dan hal-hal yang dapat merusak hutan. Marilah kita menjaga hutan Indonesia dan segala ekosistem di dalamnya.

#AsyiknyaNaikFerry: Pulang ke Laut



Sebagai seseorang yang tumbuh di provinsi terujung di Pulau Sumatera, Lampung, saya sangat familiar dengan pantai dan laut. Sejak kecil, seringkali saya dan keluarga bepergian menuju Pulau Jawa melalui jalur darat yang dilanjutkan melalui Selat Sunda menggunakan Kapal Ferry dari ASDP Indonesia Ferry, baik pergi hingga pulang kembali ke Bandar Lampung.

Tentunya banyak kenangan-kenangan menarik selama perjalanan melintasi Selat Sunda. Apalagi, sudah tidak terhitung berapa banyaknya saya pergi menggunakan Kapal Ferry  Berbagai variasi rute sudah saya jalani, mulai dari menggunakan kendaraan pribadi, Damri, ataupun Bus Pariwisata antar kota.

Pemandangan di sekitar dermaga Merak dan Bakauheni biasa diikuti dengan perpisahan-perpisahan, diikuti oleh aroma khas lautan yang langsung bermuara pada Laut Jawa dan Samudera Hindia, keindahan pemandangan alam yang masih belum terjamah dari pulau-pulau kecil di sekitarnya, serta gugusan Anak Gunung Krakatau di tengahnya. Saya tidak pernah bosan bepergian melalui jalur laut, karena setiap perjalanannya memberikan nuansa yang baru dan selalu ada pengalaman yang berbeda-beda pula.

#AsyiknyaNaikFerry adalah suasana yang selalu berbeda di setiap kapalnya, baik awak kapal maupun menu jualan di dalamnya. Pilihan kelas di dalam badan kapal pun bervariasi. Tidak semua bentuk dan jenis Kapal Ferry itu sama. Diantara Kelas Bisnis dan Ekonomi, terkadang ada pilihan Kelas Lesehan segala. Sangat cocok bagi yang akan melakukan perjalanan jauh lintas Jawa/Sumatera dan butuh istirahat lebih nyaman.

Sekarang ini, sesudah merantau ke ibukota Jakarta, saya selalu menyempatkan diri untuk pulang kembali ke kampung halaman di Sumatera. Walaupun di era yang serba digital ini, semua serba cepat dan mudah, semua orang berbondong-bondong naik pesawat terbang. Namun bagi saya, momen naik Kapal Ferry tetaplah yang selalu saya nantikan. Klasik tetapi asyik. Bagi saya, setiap mil perjalanan yang ditempuh sangatlah berarti, mereka mempunyai ceritanya sendiri-sendiri. Saya selalu tidak sabar kembali ke rumah, menikmati pantai-pantai di pesisir Sumatera, yang kini mulai banyak di eksplor oleh para pelancong domestik maupun mancanegara.


Kadangkala ketika perjalanan dilakukan pada senja hari, kita bisa sambil melihat sunset di pinggir dek kapal. Suasana yang damai sekaligus romantis, yang pastinya jarang ditemui di tengah kota besar. Keindahan matahari berada di ujung cakrawala, berikut kemilaunya hamparan laut yang menjadi berwarna jingga keemasan. Benar-benar pesona yang luar biasa, mengingat bahwa kami bukan dalam perjalanan liburan, namun sangat menghibur.

Bila perjalanan di lakukan pada pagi atau siang hari, jika beruntung kita dapat melihat lumba-lumba bermain dan berloncatan mengikuti lajunya kapal, seolah-olah mengajak untuk bermain dan berlomba adu cepat.
Bahkan jika melakukan perjalanan malam hari, walaupun hari telah gelap dan pemandangan laut tidak begitu kelihatan jelas, kita masih bisa merasakan semilir angin laut serta gemerlap lampu-lampu di sekeliling pulau, jauh di seberang, yang terlihat berupa titik-titik terang berwarna-warni.


Saya tahu, bukan hanya saya seorang yang memiliki kenangan tentang pulang ke kampung halaman. Setiap orang pasti punya ceritanya masing-masing.
Bagi kami, para perantau yang berada jauh dari rumah, ingin selalu kembali ke pelukan Ibu. Seperti pelari yang tetap berada di jalur trek nya, seperti pemain musik kembali pada nada-nada, petani kembali pada rumahnya setelah seharian bekerja di sawah. Ya, ada sisi romantisme yang mampu mengarahkan imajinasi liar kami di sepanjang perjalanan laut yang ditempuh selama 2 jam tersebut.

Bagaimanapun, kembali dan pulang ke sisian laut merupakan hal yang selalu ditunggu-tunggu. Kembali pada kapal-kapal dan perahu yang membesarkan saya, menerjang ombak dan gugusan pulau-pulau, bahkan yang sudah mengajarkan saya kerasnya kehidupan.

Seperti inilah rasa 'pulang' itu seharusnya.