Review #JuruBicara

Gue paling males sih nge-fans sama orang, apalagi artis lokal. Tapi apa yang gue takutin justru terjadi ketika gue nonton show stand up comedy spesial. Uniknya, rasa kagum gue bukan lahir dari pertemuan pertama atau kedua. Ini justru pertemuan gue yang ketiga dengan si Juru Bicara. Setelah nonton Mesakke Bangsaku dan sehari sebelumnya gue ikutan meet & greet sekaligus nonton bareng film dokumenter Menemukan Indonesia, udah pernah gue bahas lengkapnya bisa dibaca disini.

#JuruBicara World Tour (Medan)
Sabtu, 4 Juni 2016
di Selecta Royal Ballroom, Medan

World tour kali ini menyinggahi 24 kota di 5 benua, disponsori oleh portal video lokal vidio.com. Wow! Medan sebagai kota pertama di Indonesia, pastinya spesial karena kenyataannya para mahasiswa dari Medan merupakan orang-orang yang ikut andil dalam pergolakkan HAM di Indonesia pada tahun 1998, salah satu topik utama yang akan dibahas dalam show ini. Selain itu animo masyarakat Medan terhadap Pandji sendiri sangat besar, *maklum artis :p Apalagi Medan menjadi satu-satunya kota di Pulau Sumatera yang di singgahi #JBWT, jadi banyak juga penonton dari luar daerah yang sengaja bela-belain dateng buat nonton. Dan sebagai salah satu orang yang udah duluan nonton #JBWT, rasanya tangan gue gatel banget mau nge-review supaya kota lain pada sirik sama euforia nya. Hahaha.


Malam minggu itu gue bela-belain dateng walaupun cuma ber-2 sama Indah. Kita memang anaknya penikmat stand up comedy banget, sampe ngorbanin malem mingguan *padahal emang gaada yang ngapelin aja sih :(
Untuk menghargai yang tepat waktu, acara dimulai ontime jam 19.30. Pembawa acaranya merupakan seseorang dari tim nya #JBWT, pengelola toko WSYDN Shop, siapa lagi kalo bukan Koh Danis (@danisdarusman). Dia nggak ngelucu sih, tapi dengan melihat tampangnya aja bawaan nya jadi pengen ketawa.



Opener 1 (@ilhamabayy)
Komika pertama sebagai pembuka acara ini adalah @ilhamabayy komika lokal Medan. Dengan rambut gondrong alaala anak band, Ilham sukses memulai pemanasan dengan mengundang tawa dari banyolan tentang kelakuan Mamak-nya, sampe keadaan umum di kota Medan sendiri yang kalo dipikir-pikir bisa juga ditertawakan.



Opener 2 (@RahmetAbabil)
Anak STM (Sekolah Tanpa Modal) satu ini, @RahmetAbabil merupakan jebolan SUCI 5. Gue nggak terlalu ngikutin juga, tapi dari penampilannya ketahuan kalo orang ini udah punya banyak jam terbang karena penguasaan panggung dan stage act nya oke banget. Dia ngomongin situasi di rumahnya juga, tapi dengan cara yang lebih dramatis. Dia masih kaget masuk hotel mewah, jadi terkagum-kagum. Memang katanya si Rahmet ini diajak jadi opener tuh tujuannya supaya ada yang bisa dikata-katain sama Pandji, hahaha wajahnya cocok sihh di bully.


Headliner (@pandji)
Dengan mengenakan batik lengan panjang warna hijau, *yang dimirip-miripin seragam PSMS dan pastinya sih endorse-an :p @pandji muncul dan maksa minta dielu-elukan. Mungkin cuma karena kasian, penonton jadi histeris neriakin dia.

Sudah menjadi persona nya Pandji merupakan komik yang biasa membahas isu-isu tentang politik, pendidikan, lingkungan, dan kali ini khususnya HAM. Pandji sebagai sosok yang berbicara mewakili individu-individu yang selama ini dikesampingkan. Tentang aksi Kamisan, tragedi Trisakti, tentang hewan, prostitusi, ganja, tentang pengalamannya keliling dunia, ajakan untuk berkarya, sampe rating TV saat ini. Kapan lagi bisa ngobrolin gosip diiringi fakta kayak gini?

Gue mulai melihat bahwa stand up comedy saat ini udah ada di level yang berbeda. Bukan cuma sekedar mencari banyak-banyakan LPM (laugh per minute), tapi kita sebagai penonton juga pengen mendengar pendapat si komika tentang suatu isu yang terjadi. Disini, gue salut sama Pandji. Dia mungkin bukan komik yang terlucu, tapi terbukti ide dan pemikirannya bisa sangat menginspirasi. Satu lagi ketakutan gue selain takut ngefans sama dia, yaitu gue takut malah jadi konsumtif dengan karya-karya dia yang lainnya.


Sebagai penutup, Pandji melayani Q&A dari beberapa penonton. Sengaja gue ngikutin sampe akhir ya karena gue penasaran juga apa isi kepalanya. Kadang kan pertanyaan penonton macem-macem, bisa jadi sesuatu diluar topik. Nambah wawasan baru sih yang pasti.



Gue nggak bisa ngebandingin kalo ditanya lebih suka Juru Bicara atau Mesakke Bangsaku. Menurut gue dua-duanya sama bagusnya karena isu-isunya hampir serupa, topiknya sama beratnya tapi dibalut dengan komedi khas Pandji. Setiap bit sarat akan ilmu pengetahuan dan punchline nya selalu nggak terduga. Jadi mau ketawa aja mesti pake mikir dulu, sekelas joke-joke internasional lah. Pandji orangnya nyenengin banget, pengalaman dia bicara di depan umum dengan energi maksimal selama kurang lebih 2 jam nggak perlu diragukan lagi. Asli pecah! Rahang gue encok...

Selesai acara gue males foto bareng lagi, udah pernah dan antriannya panjaaaang gila! Sampe ketemu lagi aja ya, Bang Pandji. Cukup disayangkan begitu gue tau bahwa tahun depan mungkin Pandji Pragiwaksono akan istirahat dari tour nya, yang berarti entah kapan kesempatan gue ketemu lagi. Hmmm, tapi gue menghargai keputusannya sih, kasian kan keluarga nya ditinggal keluar kota mulu hahaha. Semoga sukses world tour nya tahun ini, dan tetep ditunggu karya-karya lainnya, Bang!

Foto sama banner pun jadilaaah~


*Beberapa foto diambil dari jepretan Mas Pio.

Siddharta The Buddha Film Screening

Since its first debut in 2013 at Sri Lanka, a spiritual movie Siddharta The Buddha or also known as Sri Siddharta Gautama was phenomenal. Not because of the story which is based on Prince Siddharta as a human being as the point of view, but also in the making. Including the selective casts, visual art, movie sets, and architectures that make it different from this kind of movie before.

Navin Gooneratne as the producer already give his permission to PATRIA (Theravada Buddhist Youth of Indonesia) to serving it in Indonesia, as the 10th country who serving it. For a certain time period, this film is now playing in several cities around Indonesia in turns. Medan - Jakarta - Jambi - Palembang - Tangerang - Semarang - Yogyakarta - Surabaya - Denpasar - Pontianak - Banjarmasin - Samarinda - Makassar.

For those who haven't watched the trailer yet, check this one out:





1st STOP >>> MEDAN
Even though there's some trouble to set in first, but it can't burn off our spirit to still serving this great movie. We were proudly present it to you, as well as Medan is the first city stop in its journey along Indonesia road tour on Sunday, June 12th 2016. It won't be released in DVD or Youtube, just brought it to you exclusively in a giant screen of Selecta Imperial Hall, 3rd floor. Successfully done, such an honor!


The combination of the powerful elements like art, dialogue, role, and the luxury of a very attractive setting. This film also full of moral and cultural values bring the audience to dissolve in the pride and emotion. Even not a few audience bring the tears after exit the cinema. It really touched besides on the story we knew before. An epic movie deserves! Especially as the Buddhist, we have to support Buddhism Film.

Life story of a royal family during that period about 500 before century in India, described timelessly by narrative writing, costumes, and properties. Conflicts and fraternity also included in. No doubt that our most favorite part is love scene. The film didn't show every single details, but the message delivered enough to us. It's about the struggle, his spirit of how he leave the luxury then torture himself and finally to be enlightened.

The main actress/actors are also good looking and lovely to watch. Ah, I can't tell you any longer... As the first 2000 peoples in Indonesia who have watched this film, I feel so lucky and really can't help my hands to typing to share the story a little bit more. Hahaha!
In order not to spoiler, I just ask some audience for their testimonials of the film. From the religious figures to Buddhist communities, most of them give positive response to the sequel, if there's Siddharta The Buddha Part 2 later. Who knows? We heard the info that Navin is still producing this. Seeing how the audience appreciate and enthusiast, I just really can't wait!!

video

Watch full video testimonials from my interviewee on Patria Sumut fanpage and let's join the massive crowd over the Indonesia road tour!


https://www.facebook.com/PatriaSumut/videos/919993398123542/

https://www.facebook.com/PatriaSumut/videos/919993398123542/

https://www.facebook.com/PatriaSumut/videos/919993398123542/


"A great film. For me it was a great pleasure and inspiration to see a good movie, one which has a great legend behind it. This is not entertainment, this is actually inspiration so you can go away understanding more, being a better human being. Getting closer to enlightenment and the real renunciation which you all know was not leaving the home, is the renunciation which goes on inside of us, that’s much harderthan leaving your wife & kids, the palace and all your possessions. Renouncing your hatred, guilt and your fear, those are the hard once to renounce.“
- Ajahn Brahmavamso -


Next stop is Jakarta for 2 weeks in a row, June 19th and 25th 2016. They also have press conference and meet & greet with the cast too! Aaahh so envy :( remembering the main cast Gagan Malik who play roles as Prince Siddharta also come to greet his fans in Jakarta. I wish I was there...

And the journey continued to Jambi on July, 1st and 2nd 2016... More info and upcoming schedule, feel free to ask PATRIA in your city :)

Just An Ordinary Wongsoyudan #BalasDi18

Hidup itu merupakan serangkaian proses yang diwarnai dengan kegagalan dan kesuksesan. Bagaimana cara kita menyikapi hidup dan perjuangan lah yang mewarnai serangkaian itu. Mungkin saat ini gue masih mencari apa yang disebut sukses, tapi selama gue menganut paham wongsoyudan, gue jadi punya kemauan untuk sukses di masa depan. Wongsoyudan yang dimaksudkan disini adalah kalangan yang berjuang.

Bisa dibilang perjuangan terbesar gue di bidang olahraga, khususnya tenis lapangan. Dulu waktu masih junior, gue pernah serius menekuni bidang ini bahkan sebagai profesi. Bertanding dari satu kota ke kota lainnya di usia yang relatif muda selain membuat gue paham akan keberagaman budaya Indonesia, gue juga semakin mengenal orang-orang diluar sana. Selalu ada lawan yang gigih di setiap turnamen. Salah satu yang paling gue inget, seorang lawan yang sekaligus jadi idola gue dari Sumatera. Sebut aja namanya Vera. Dari situ gue mulai mengamati gaya hidupnya yang memang-atlet-banget dan semangatnya yang pantang menyerah. Pokoknya kalo ngeliat dia saat itu, orang pada yakin dia bakal jadi petenis hebat nantinya.

Terbukti di tahun-tahun berikutnya, dia memang selalu jadi andalan daerah. Dia bahkan rela ngorbanin sekolahnya demi ngejar prestasi di olahraga. Ya, kadang keduanya memang nggak bisa jalan beriringan. Kalo mau fokus, salah satu harus dipilih. Dia lebih milih untuk jadi atlet, masuk asrama atlet di Jakarta. Beda banget sama gue yang milih dua-duanya, sekolah dan olahraga *maruk sihh. Mungkin itu juga sebabnya kenapa prestasi gue jauh tertinggal dari dia.

Tahun demi tahun gue lewati menjadi petenis junior tingkat provinsi, yang tanpa sadar sebenernya menyita waktu dan ngabisin masa muda gue banget. Di akhir SMA ketika temen-temen gue sibuk daftar perguruan tinggi, baru deh gue sadar bahwa gue belum menentukan masa depan gue! Untuk lanjut jadi petenis rasanya nggak ada masa depan lagi karena prestasi gue ya begitu-gitu aja. Apalagi melihat perkembangan olahraga dan kondisi para atletnya yang kurang dihargai di negeri ini. Gue harus kuliah! Tapi nggak tau mau ngambil jurusan apa. Gue jadi kelabakan sendiri. Mungkin jurusan teknik? Ya, mungkin. Jadilah semua perguruan tinggi negeri gue coba daftarin, dari jalur undangan sampai tertulis. Sayang ternyata nggak ada yang nerima. Mungkin karena gue kurang fokus di akademik.

Untungnya saat itu kampus UGM punya jalur prestasi dari bidang olahraga dan seni. Akhirnya gue merasa ada juga harapan. Gue antusias banget mendaftar. Ada 2 tahap seleksi untuk bisa diterima dari jalur ini. Pertama dengan tes tertulis di daerah masing-masing. Oke, gue lolos seleksi awal. Seleksi tahap kedua yaitu para peserta diundang ke kampus UGM di Jogja untuk tes kemampuan di bidang olahraga/seni, dalam kasus gue ya di lapangan tenisnya. Sampe pada waktunya pengumuman apakah diterima sebagai mahasiswa atau tidak. Dan ternyata…gue nggak diterima :( Lagi dan lagi. Gue kecewa. Banget!



Apakah gue menyerah?
Enggak!
Besoknya gue daftarin lagi universitas-universitas yang masih buka pendaftaran. Di saat gue udah hopeless, akhirnya gue keterima di salah satu universitas negeri di Sumatera Utara yang jadi tempat gue belajar sekarang. Dan ternyata gue menemukan masa depan gue disini, yang ternyata bukan jurusan teknik, tapi kedokteran gigi. Wah gue bakal jadi dokter! Rejeki anak ngeyel :p
Sampe post ini ditulis, gue udah menjalani 6 tahun pendidikan kedokteran gigi, dan doain aja (semoga) bisa tamat di tahun ini.




Gue juga masih main tenis, walaupun udah nggak ngejar prestasi di tingkat provinsi,yaa sadar umur sih :p Tapi beberapa kali gue sempet mewakili kampus untuk bertanding di luar negeri. Siapa yang sangka nasib membawa gue into the next level?



Dan setelah beberapa tahun gue ketemu lagi sama Vera, gue tanya kabarnya,
“Ver, masih maen tenis nggak lo?"

"Udah nggak lagi dress.."

"Loh kok gitu?"


"Ya, jadi atlet itu kan nggak gampang..."


"Jadi, apa kesibukan lo sekarang?"


"Kayaknya gue mau lanjut sekolah aja deh, Dress..."

Yah! Dia berhenti tenis. Sayang banget… Sekarang gue dan dia sama. Sama-sama berhenti ngejar prestasi dan udah nggak berharap banyak lagi di bidang olahraga. Terakhir sih gue denger dia jadi sekolah chef, juru masak. Jauh dari apa yg dia kejar selama ini. Tapi disamping itu, gue mikir kalo jadi chef kayaknya oke juga kok. Nggak kalah keren dari petenis.

Walaupun kadang masih ada sih sedikit perasaan pengen balik lagi ke masa-masa itu dimana kita masuk tim bela provinsi, training, coaching clinic, turnamen di luar kota, dikasih uang saku, perlengkapan baru, seragam tim kebanggaan, diliput koran daerah, dan semua fasilitas atlet yang menggiurkan. Tapi gue sadar sih buat apa nyesel? Buat apa masih mengingat-ingat masa jaya yang udah lewat? Memang sih kalo udah gagal ya pasti rugi waktu, energi, materi, dan banyak kerugian lainnya. Belum lagi rasa kecewa diri sendiri dan orang-orang yang selama ini mendukung kita. Tapi malah dari situ, gue belajar untuk lebih menghargai perjuangan hidup.

Maksud dari cerita gue ini buat pembelajaran bahwa ketika kita gagal di satu bidang, bukan berarti kita juga akan gagal di bidang lainnya. Kadang walaupun udah berusaha keras, semangat, dan nggak putus asa tapi masih aja mengalami kegagalan. Mungkin memang harus gagal dulu baru kita tau gimana sakitnya.
Gue memang pernah gagal sebelumnya, tapi gue juga bukan pecundang. Yang namanya perjuangan itu nggak akan pernah sia-sia, seenggaknya sampe detik ini gue adalah pembelajar yang terhormat. Mungkin gue gagal jadi atlet hebat, tapi gue cukup yakin banyak pasien-pasien yang nasibnya tergantung sama ilmu yang gue pelajari saat ini. Nasib membawa gue untuk mengabdikan diri di bidang kesehatan, sesuatu yang sama sekali lain.

Tapi perjuangan gue di bidang olahraga mungkin belum selesai. Sebagai orang yang tumbuh dari olahraga, gue merasa punya PR untuk mengembangkan bidang ini. Siapa tau suatu hari nanti gue bisa mengusahakan sponsor olahraga yang berkelas atau menjadi insan olahraga di kalangan atas. Siapa tau...
Gue nggak mau gagal lagi. Kegagalan masa lalu bukanlah sesuatu yang harus disedihin, tapi dijadiin motivasi supaya bidang yang kita tekuni sekarang nggak bernasib sama, supaya nggak berakhir dengan kegagalan juga. Amin!

A winner is not always a champion. Winner is winner, loser is learner. Yess, I'm a learner!
- Dresiani Mareti -

--->> Sebuah cerita perjuangan hidup saya sebagai seorang wongsoyudan yang bukan hanya menikmati karya, tapi juga berkarya.
Selamat ulang tahun Mas @Pandji #BalasDi18
INSTAGRAM